Mini Polder Tingkatkan Pendapatan Petani Rawa Lebak
berita
FOTO: Humas Balitbangtan
RILIS.ID, Hulu Sungai Utara— Konsep mini polder dalam pengelolaan lahan rawa lebak terbukti meningkatkan indeks pertanaman lahan sawah di rawa lebak dari 100 menjadi 200 atau dari tanam sekali menjadi dua kali dalam setahun. Demikian diungkapkan Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi tadi siang di acara Temu Lapang dengan para kelompok tani, penyuluh, pegawai Dinas Pertanian, dan para peneliti Badan Litbang Pertanian tadi siang di Desa Hambuku Raya, Kec. Sungai Pandan, Kab. Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel. 

Lebih lanjut Dedi mengatakan, lahan rawa lebak yang luasnya sekitar 25 juta hektare sangat berpotensi untuk ditingkatkan produktivitasnya. Konsep mini polder merupakan pembagian polder besar (>1000 ha) menjadi polder yang lebih kecil (50-100 ha) dengan tujuan agar pengelolaan air kebih mudah dan biaya perawatan lebih murah. Kelebihan air di musim hujan yang bisa menggenangi lahan sawah bisa dipompa keluar sehingga lahan bisa ditanami. 

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pertanian dan Hortikultura Kab. HSU Ir Ilman Hadi mengatakan produktivitas lahan rawa lebak di HSU sekitar 5-6 ton per hektare tanpa pupuk kimia. Hanya memang petani disini hanya bisa tanam satu kali saja karena saat musim hujan tanaman padi tenggelam. "Oleh karena itu saya menyambut baik program Balitbangtan mengembangkan konsep mini polder untuk meningkatkan pendapatan petani lahan rawa lebak di Hambuku Raya, HSU. 

Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian Dr Ani Andayani mengatakan, sesungguhnya petani dapat memanfaatkan dana desa untuk membuat longstorage dan di musim kemarau airnya dipompa untuk irigasi pertanian. Hal ini diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2018 tentang pemanfaatan embung kecil untuk irigasi pertanian.

Petani di Desa Hambuku Raya umumnya menanam padi varietas Ciherang atau Mekongga dengan produktivitas 5-6 ton per hektare. Dr Indrastuti, peneliti Balai Besar Litbang Padi mengatakan bahwa saat ini sudah release varietas unggul baru yang morfologi dan rasanya mirip Ciherang tapi potensi produktivitasnya lebih tinggi. "Varietas tersebut adalah Inpari 32 dan Inpari 40 dengan potensi produksinya sekitar 9 ton per hektare", kata Indrastuti menambahkan. 

Peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Ir Yanti Rina MSi mengatakan bahwa pendapatan petani rawa lebak dengan produktivitas 5,5 ton per hektare sekitar Rp30 juta pada harga gabah Rp5.400 per kilogram . Dengan sistem mini polder maka indeks pertanaman dapat ditingkatkan menjadi dua kali, sehingga pendapatan petani juga meningkat menjadi Rp 60 juta per hektare.

Lebih lanjut Yanti Rina mengatakan bahwa petani rawa lebak selain menggarap sawah umumnya juga memelihara itik. Hasil studinya menunjukkan bahwa pendapatan tiap KK petani yang memiliki 50 ekor itik sekitar Rp21 juta. "Dengan demikian maka pendapatan petani lebak berbasis mini polder sekitar Rp81 juta", ujar Yantirina menambahkan.

Sumber: Yantirina/Balitbangtan

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari