Multatuli, Membunuh Kolonial lewat Sastra
berita
Buku Max Havelaar. FOTO: Istimewa
USIA manusia itu sangat pendek, yang mengabadikannya hanya tulisan atau karya seseorang. Sebuah pernyataan yang sungguh tepat bila merujuk kepada Eduard Douwes Dekker alias Multatuli sang penulis novel Max Havelaar (Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda). Seandainya masih hidup, sosok kelahiran 2 Maret 1820 itu kini berusia 197 tahun.

Seperti disitat dari Max Havelaar (Qanita, 2016), novel Max Havelaar ditulis dari pengalaman Douwes Dekker di Banten pada Abad 19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. 

Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin dan menderita. Diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. 



Novel ini memaksa Belanda menerapkan politik etik dengan mendidik kaum pribumi elite, sebagai usaha ‘membayar’ utang mereka pada pribumi. Tragis, lucu dan humanis, Max Havelaar, salah satu karya klasik yang mendunia. 

Sejarawan muda Bonie Triyana yang juga inisiator Museum Multatuli di Kota Rangkasbitung, Lebak, Banten, menuturkan, Douwes Dekker sejatinya tidak menyangka novel yang terbit pada 1860 akan menginspirasi gerakan antikolonial di kalangan pribumi, bahkan juga di Filipina. Multatuli saat itu hanya menginginkan pemerintah kolonial memberikan keadilan bagi negeri jajahannya.

"Dia hanya mencita-citakan sistem kolonial yang lebih adil. Novel itu efeknya lebih dari itu. Lebih dari sekadar menciptakan keadilan dalam kolonialisme, tapi menjadi rujukan agar kolonialisme itu harus diakhiri," kata Bonie seperti disitat dari BBC Indonesia.

Sebagai bagian dari penghormatan dan mengenang jasa Multatuli, di Lebak telah berdiri Museum Multatuli. Sebuah museum di lokasi bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an ini rencananya akan berisi tentang cerita masuknya penjajahan ke Nusantara. Museum ini juga disebut-sebut sebagai museum antikolonial pertama di Indonesia.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid saat meresmikakan museum ini mengatakan, Museum Multatuli diharapkan akan merawat ingatan kita bersama. "Karya Multatuli mengilhami para perintis kemerdekaan seperti Kartini dan Sukarno. Jadi saya kira generasi pertama para pejuang kemerdekaan pada awal Abad 20 sangat terinspirasi dari gagasan-gagasan ini," ujarnya.

Max Havelaar ditulis sebagai pengalaman dan juga kesaksian Multatuli saat menjadi Asisten Wedana di Lebak. Dengan kisah terkenalnya Saidjah dan Adinda, novel ini mendapat perhatian serius pemerintah Belanda. Apalagi, pada bagian akhir buku ini Multatuli menyampaikan permintaan kepada Raja William III untuk menghentikan tindakan sewenang-wenang di daerah jajahan Belanda.

Penerbitan Max Havelaar membuat Multatuli dikecam dan mengundang perdebatan serius di Parlemen Belanda hingga sang penulis terbuang ke Jerman hingga meninggalnya. Sebaliknya di negeri jajahan, Multatuli dianggap sebagai pahlawan bukan hanya untuk Indonesia tetapi juga untuk negara-negara Asia dan juga Afrika.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam pernyataannya di The New York Times pada 1999 menyebut, Max Havelaar telah membunuh kolonialisme.

Editor: Yayat R Cipasang

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari