Nahasnya Selingkuh di 'Jaman Now'
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
KALAU dulu, istilah "pelakor" adalah WIL. Akronim dari wanita idaman lain. Namun, hadirnya julukan baru yang populer pada 2017 ini terkesan lebih kejam, karena menyudutkan perempuan sebagai pelaku kejahatan. Padahal, kasus nyeleweng juga menjadi bagian kesalahan laki-laki.

Menurut pandangan sosiolog Universitas Nasional (Unas), Sigit Rochadi, label ini sebetulnya untuk kalangan papan atas saja, seperti pejabat, artis atau kelompok menengah. Mengapa disebut "pelakor"? Karena mengacu pada siapa yang memulai tindakan lebih dulu. Tudingannya wanita.

Berbeda di tahun 80an, di mana cap yang diberikan publik hanya satu, yakni selingkuh. Kemudian, pada era 90an, dikenal istilah WIL (wanita) dan PIL (pria). Nah, baru-baru ini, memang lebih memojokkan, yakni "pelakor".

"Kalau dulu, julukan itu cenderung netral," kata Sigit.

Lalu, kenapa sih harus pelakor? Jadi, usut punya usut, julukan ini sudah ngepop di sejumlah forum wanita, bahkan sejak 2005 lalu. Ini dikaitakan dengan gosip artis Mayangsari dan Bambang Trihatmojo. Tapi, ada juga pendapat kalau istilah ini muncul dari akun Instagram @lambe_turah.

Waktu itu, dunia pergosipan nusantara lagi sibuk ngomongin isu kedekatan penyanyi Ayu Ting Ting dengan artis Raffi Ahmad. Begitu juga, dugaan atas Mulan Jameela dan Ahmad Dhani. Di tambah, munculnya film The Conjuring 2 yang menampilkan sosok hantu jahat bernama Valak.

"Pelakor" sendiri merupakan tuduhan bagi seorang wanita yang berbuat jahat. Ya, merebut suami orang, adalah tindakan sadis bagi para istri sah. Gimana enggak, kalau kata KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), kata dasar "rebut" memiliki arti, rampas dan mengambil dengan paksa. Kriminal sekali.

Yang menjadi masalah sekarang adalah kebiasaan mengumbar-umbar aib. Kalau dulu, selingkuh itu masih dianggap hal yang bikin malu. Namun, adanya media sosial membuat kasus tersebut sebagai gosip publik. Itu karena masyarakat Indonesia mengalami shock culture dengan hadirnya jejaring internet.

Sigit bilang, masyarakat ini belum cukup dewasa menggunakan media sosial. Jadi, jika ada sesuatu yang menarik, bagi mereka adalah sebuah berita. Itulah mengapa, Bu Dandy memberikan sanksi kepada temannya yang dituding "pelakor" dengan menyebarkan kabar tersebut.

"Konsekuensi turunannya, aib menjadi obrolan masyarakat luas," ujarnya.

Jika melihat dari kacamata sosial, modus perselingkuhan memang tak selalu jadi nasib nahas kaum elite doang. Masyarakat "pas-pasan" pun bisa saja melanggar norma. Cuma modusnya berbeda, lebih ke faktor ekonomi. Sedangkan, orang-orang tajir lantaran "kebutuhan" lain.

Merujuk pada survei yang dilansir prevention.com, 51 persen responden menyatakan, penyebab selingkuh karena kurangnya intensitas berhubungan intim. Meski, ada beberapa juga faktor eksternal, seperti bosan, saling tidak memahami, dan 41 persen menyatakan lebih "klik" dengan rekan kerja.

Kondisi ini umumnya terjadi pada pria. Berdasarkan penelitian pada Journal Sex Research yang dilansir kompas.com, semakin lama usia pernikahan, pria cenderung memiliki hasrat untuk bertualang mencari pasangan lain. Berbeda dengan perempuan yang memikirkan faktor menopuse mereka.

Broken Home
Ternyata media sosial menjadi faktor dominan kasus perceraian di Indonesia. Menurut data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag), Mahkamah Agung, pada 2016 jumlah perceraian mencapai angka 19,9 persen, naik 4,9 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 15 persen.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati sempat bilang bahwa media sosial menjadi fenomena baru yang mendongkrak perceraian, sehingga harus disikapi secara bijak.

"Komunikasi di dunia maya sering kali menimbulkan persepsi yang berbeda dan justru menimbulkan kerentanan konflik antara pasangan," kata Rita.

Misalnya, kayak nulis atau mengomentari status. Ini yang kerap jadi sumber mispersepsi antara pasangan. Makanya, suami-istri ini, harusnya bisa membangun komunikasi intensif. Karena, media sosial tidak bisa menggantikan peranan obrolan langsung yang sebenarnya membangun rasa nyaman.

Keputusan untuk cerai juga jangan sembarang diambil. Orang tua tuh mestinya mikirin nasib anak-anak mereka. Karena, gak ada yang namanya mantan anak atau mantan orang tua.

Berdasarkan data KPAI, perceraian menjadikan anak broken home. Salah satu indikatornya adalah kasus kenakalan anak yang terus meningkat. Pada 2014 lalu, tercatat ada 67 kasus, lalu naik di tahun 2015 menjadi 79 kasus. Kemudian, kasus tawuran sendiri dari 46 kasus (2014) menjadi 103 kasus (2015).

Sebelumnya, pada Oktober 2017 lalu, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, juga menyayangkan tinggi angka perceraian. Makanya, pemerintah lagi gencarin program bimbingan perkawinan bagi pasangan calon pengantin. Supaya, mereka punya bekal jelang berumah tangga, termasuk antisipasi gangguan "pelakor" ya, Pak?

"Di sinilah peran KUA sangat penting dalam menjalankan program pendidikan pranikah dan bimbingan perkawinan," ujar Lukman belum lama ini.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari