Nyinyiran Prabowo ke Awak Media
berita
FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.
"ADA yang dari (media) itu enggak ya? Saya agak alergi dengan channel itu." Begitu kata Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, di Depok Jawa Barat, belum lama ini.

Ia menyindir sebuah stasiun televisi swasta. Bahkan, disebutnya inisial dari media tersebut. "Saya enggak sebut namanya ya, enggak etis. Tapi namanya mulai dengan M," ujar dia.

Meski, katanya, televisi satu itu kerap membuatnya gusar, cuma Prabowo sama sekali tak membenci atau dendam kepada wartawannya. Kenapa? Ia bilang, karena wartawan bergaji kecil.

"Mereka sama hatinya dengan kita karena gajinya kecil," ujarnya.

Bukan sekali itu Prabowo menyinggung profesi jurnalis, termasuk soal gaji mereka. Pada 2017 lalu, tepatnya pada hari Kemerdekaan Indonesia, Prabowo pernah melontarkan pernyataan serupa.

"Ya kami bela kalian juga para wartawan, gaji kalian juga kecil kan," sebut dia saat menghadiri upacara HUT RI di Universitas Bung Karno.

Tak tanggung-tanggung, ia bilang bahwa wartawan enggak bisa belanja di mall. Makanya, salah satu agendanya adalah berjuang untuk para awak media.

Di mana negeri ini memiliki kekayaan alam melimpah, namun tak bisa dinikmati semua orang. Tapi, apakah harus bawa-bawa wartawan dalam kampanyenya tersebut?

Emrus Sihombing, pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan, menilai tak sepatutnya Prabowo menyinggung penghasilan kelompok profesi tertentu. 

"Saya pikir itu kritik yang tidak produktif karena bisa menyebabkan kecemburuan sosial pada kelompok profesi tersebut," kata Emrus.

Mestinya, si Bapak melakukan kajian terkait gaji wartawan, sehingga pernyataannya lebih produktif dan bersifat akademik. Misal, komposisi penghasilan dan pengeluaran wartawan, angkanya dianggap kurang. Jadi, perlu lah kenaikan gaji.

Namun, untuk pernyataan Prabowo yang alergi terhadap satu media tertentu, Emrus menilai, memang tak bisa melepaskan framing media terhadap kepentingan dari pemilik modalnya.

Salah satunya, adanya pemilik media yang juga pengurus, bahkan pendiri parpol tertentu di Indonesia. Untuk hal satu ini, kata dia, bisa jadi kritik agar pemilik media introspeksi diri.

"Ya kalau di negara kapitalis, yang mengendalikan adalah pemilik modal. Kalau di negara otoriter, ya yang paling mengendalikan adalah kekuasaan," ujarnya. 

Sudah Karakter
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra menilai, sudah menjadi karakter Prabowo yang berbicara apa adanya. 

Hal itu dipengaruhi oleh latar belakang Prabowo yang merupakan seorang militer. Di sisi lain, lanjutnya, itu juga memang bagian dari strategi Prabowo sendiri.

"Saya melihat pola komunikasi itu bagian dari strategi politik," kata Iswandi.

Nah, saya melihat Prabowo sadar betul kalau sekarang ini sudah masuk era post truth. Di mana kebenaran tak lagi tunduk pada fakta, melainkan opini. 

Kritik atas penghasilan para pekerja media itu, bisa saja bermaksud agar karya jurnalistik para wartawan tak tergadai. Makanya, ia menekankan perlunya kesejahteraan bagi mereka.

"Bahwa pembuat berita itu bergaji rendah. Itu artinya, kebenaran juga berkualitas rendah," tambah dia.

Saat ini, media cenderung memilih isu-isu dari tokoh populis saja. Padahal, itulah yang hari ini, justru mengancam keberadaan demokrasi yang sesungguhnya.

Demokrasi enggak bisa naik tingkat kalau dilahirkan lewat politik populisme. Semisal, saat para elite bicara soal protein cacing, mereka lupa kalau di Kalimantan itu ada kapal minyak yang tumpah. Dan, itu kan merusak lingkungan.

Tetapi, media tidak membicarakan itu sebagai sebuah ancaman. "Kita lebih tertarik kepada puisi ibu konde misalnya. Dan, Prabowo melihat konteks tersebut," tambah Iswandi.

Dia meyakini, Prabowo akan terus berkarakter seperti itu hingga Pilpres 2019 nanti. Karena menurutnya, ketum Gerindra ini, bukan orang yang bisa didikte pihak lain.

"Jangan suruh Prabowo kampanye dengan sarung, kaos oblong. Karena bukan orang seperti itu. Dia akan tampil dengan baju safari khasnya itu," kata dia.

"Dia enggak mau berpura-pura. Dan pemimpin memang tidak boleh berpura-pura," tutupnya.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari