Perang Tarif AS-China dan Ironi Pasar Bebas
Arif Budiman
11 April 2018, 15:47 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
berita
ILUSTRASI: Hafiz
PASAR meriang. Dua raksasa perdagangan dunia, Cina dan Amerika, saling berbalas tampar. Setelah Trump memberlakukan tarif impor baja dan alumunium dari Cina masing-masing sebesar 25 persen dan 10 persen dengan nilai mencapai sekitar US$60 miliar atau sekitar Rp825,9 triliun pada tanggal 23 Maret 2018, Cina langsung merespons dengan mengeluarkan kebijakan menaikkan tarif untuk impor 128 jenis barang konsumen dari Amerika hingga besaran 25 persen. Dengan total nilai tarif sekitar US$3 miliar atau sekitar Rp41,3 triliun pada 1 April 2018. Aksi berbalas reaksi ini nampaknya belum akan berhenti. 

Tarif adalah pembebanan pajak atau custom duties terhadap barang-barang yang melewati batas suatu negara. Penentuan besarannya bisa didasarkan atas tiga kondisi yaitu nilai barang (ad valorem duties), ukuran fisik barang (spesific duties), dan gabungan keduanya (spesific ad valorem).

Kebijakan Trump untuk memberlakukan tarif bagi sejumlah produk dari Cina telah memantik kegusaran dan kontroversi. Cina sampai mengingatkan Amerika Serikat bahwa langkah yang dilakukannya sama saja dengan proteksionisme ekonomi. Tak ubahnya membuka kotak pandora yang dapat membahayakan perekonomian dunia. 

Meski begitu, Trump berdalih keputusan tersebut perlu dilakukan sebagai ‘hukuman’ terhadap Cina. Ihwalnya karena Cina telah memaksa perusahaan Amerika yang beroperasi di negara itu untuk menyerahkan hak atas kekayaan intelektualnya. Akibatnya, daya saing produk-produk Amerika menjadi lemah. 

Menanggapi langkah kebijakan proteksionisme Amerika, Cina memiliki dalil yang tak kalah ‘heroik’ nya. Pembebanan tarif atas sejumlah produk Amerika yang masuk ke Cina tak lain adalah demi melindungi kepentingan nasionalnya.

Perang tarif yang terjadi antara Amerika dengan Cina adalah ironi paling nyata atas mantra pasar bebas yang selama ini dipuja-puja. Pada saat masyarakat dunia disihir oleh para ahli ekonomi dan diyakinkan tentang kemuliaan ekonomi liberal, dua raksasa ekonomi dunia justru mempertontonkan perilaku yang sebaliknya. 

Manakala pasar bebas dipahami sebagai suatu proses kegiatan ekonomi yang dilaksanakan dengan tanpa adanya suatu aturan atau hambatan buatan yang diterapkan oleh pemerintah dalam perdagangan antarperorangan dan perusahaan yang berada di negara lain, Amerika dan Cina justru saling membangun tembok penghalang. Untuk alasan kepentingan nasional, katanya. Demi melindungi produk dalam negeri, ucapnya. 

Jika para raksasa penganjur dan promotor pasar bebas saja galau dan gagal menahan konsistensi ideologisnya pada saat dihadapkan pada realitas pragmatisnya, tidakkah mengherankan jika negara-negara ‘follower’ para raksasa itu masih meyakini keampuhan jampi-jampi ‘survival of the fittest’ liberalisme? Dan membiarkan negara hanya menjadi petugas ronda.

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari