Perlu Program Terobosan Atasi Stunting
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID
TAK ada lagi anak tumbuh kerdil di Indonesia. Begitu kira-kira komitmen Pemerintah ketika menggelar Stunting Summit pada 28 Maret kemarin. Acara tersebut, dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mana untuk menguatkan komitmen bersama atasi gizi buruk anak.

Stunting di Indonesia memang menjadi permasalahan serius. Namun, upaya pemerintah untuk mengatasinya juga tak kalah sungguh-sungguh. 
 
Lintas kementerian/lembaga diintegrasikan untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang bisa menimbulkan efek negatif generasi masa depan Indonesia itu. Apalagi, Indonesia akan menghadapi bonus demografi nantinya. Bisa kalah jauh daya saing negeri ini.
 
"Sekarang, bagaimana pemerintah membuat terobosan memutus mata rantai stunting," kata JK, sapaan akrabnya.
 
Kemiskinan memang menjadi salah satu pangkal munculnya masalah stunting. Tapi, enggak menutup kemungkinan keluarga yang kaya, alami masalah serupa. Semua balik lagi ke gaya hidup.
 
"Kalau ibunya tak mau menyusui karena ingin jaga tubuhnya," ujarnya.
 
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2017 menyebutkan, dari 170 ribu balita berusia 0-59 bulan di 514 kabupaten/kota, 9,8 persen tergolong sangat pendek. Kemudian, 19,8 persen masuk kategori pendek dan 70,4 persen tercatat memiliki tinggi badan normal.
 
Untuk bayi di bawah dua tahun, prevalensinya berkisar 6,9 persen (sangat pendek), dan 13,2 persen (pendek) serta 79,9 persen (normal).


 
Menteri Kesehatan, Nila F Muluk juga mengakui, permasalahan stunting ini tak bisa diselesaikan hanya melalui kementeriannya sendiri. Karena, bukan cuma soal kesehatan, banyak juga faktor lain yang mempengaruhi munculnya stunting pada anak.
 
Misalnya, pada Kementerian Agama. Mulai dari upaya selektif kantor urusan agama (KUA) dalam menyikapi fenomena pernikahan dini. 
 
Sementara, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjoyo, mengatakan stunting tak hanya menjadi masalah di desa. Pasalnya, tak sedikit juga kasus itu, justru ditemui di wilayah perkotaan. 
 
Eko menyebut, ada sejumlah hal penyebab terjadinya stunting pada anak-anak. Salah satunya, karena kurang pemahaman dasar orang tua akan hal tersebut. Kemudian, yang tak memadai untuk menerapkan pola hidup sehat. Kayak, tidak ada air bersih dan MCK.
 
Data Joint Monitoring Programme (JMP) pada 2013, ada sekitar 24 persen masyarakat Indonesia yang buang air besar (BAB) di tempat terbuka. Dan, 14 persen yang tak punya akses air bersih.
 
"Akses posyandu atau poliklinik juga susah," ujar dia.
 
Dana desa yang telah digulirkan sejak 2015, telah bisa memberikan kontribusi dalam mengatasi permasalahan stunting. Antara lain, pembangunan PAUD, poliklinik desa, dan lainnya.
 
Penyaluran dana desa itu juga diklaim pemerintah termasuk untuk menangani permasalahan gizi buruk di Indonesia. Pada 2018, sekira Rp49 triliun anggaran di luar dana desa dialokasikan pemerintah untuk intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.
 
"Penanganan stunting di desa harus terintegrasi mulai dari pembangunan posyandu, penyediaan makanan sehat, pembangunan sanitasi air bersih, balai pengobatan desa dan lainnya. Semua itu bisa memanfaatkan dana desa," tegasnya.
 
Prof Dodik Briawan, pengajar dan peneliti Departemen Gizi Masyarakat, dari Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, mengatakan, intervensi gizi perlu dilakukan dalam bentuk edukasi secara berkesinambungan ke masyarakat, utamanya para orang tua.
 
Mereka harus paham betul kebutuhan nutrisi anak, bukannya terpengaruh gaya hidup serba instan. Kesalahan pemberian asupan makan, dapat berisiko bagi masa depan anak.
 
Anggota Komisi V DPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, mengajak seluruh elemen masyarakat bekerja sama menekan angka penderita stunting di Indonesia. Menurutnya, masalah ini adalah persoalan besar, sehingga penangannya harus komprehensif.
 
"Masalah stunting adalah persoalan besar karena melibatkan anak-anak yang kelak menjadi generasi penerus bangsa," ujar dia.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari