Polri Harus Survei Soal Kecelakaan
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
KHALAYAK belakangan ini tengah dikejutkan dengan imbauan Polda Metro Jaya yang melarang pengemudi kendaraan bermotor merokok, bermain ponsel dan mendengarkan musik. Tak tanggung-tanggung, aparat polisi akan melakukan tindakan sesuai dengan pasal yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 106 Ayat 1.

Undang-undang itu menyebutkan, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi. Dan sesuai pasal 283, pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu menjadi ancaman bagi yang tak patuh.

Namun anehnya, belum genap sepekan imbauan itu menjadi polemik publik, polisi langsung meralat apa yang disampaikannya. Katanya, polisi sebenarnya belum resmi menerapkan aturan itu. Bahkan, itu juga masih dalam tahap kajian.

Berangkat dari gelisahnya publik dengan kesimpangsiuran soal aturan dari polisi itu, wartawan rilis.id, Zulhamdi Yahmin, meminta tanggapan dari Anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil terkait aturan tersebut.

Soal pro kontra larangan merokok dan mendengarkan musik saat berkendara bagimana?

Idealnya kan satu peraturan apalagi menyangkut dengan jalan raya kan harus ada survei. Selama ini kecelakaan-kecelakaan baik tunggal maupun tidak tunggal itu apa penyebabnya. Biasanya karena supir mgantuk, rem blong. Apakah dalam survei-survei itu menyebutkan bahwa mendengar musik menyebabkan terjadinya kecelakaan. 

Makanya kan harus ada survei. Harus ada penelitian. Tidak hanya sekedar membuat aturan seperti itu. Kan akhirnya ketika sudah diumumkan lalu mendapat respons dari publik, eh menarik kembali. Itu karena tidak didukung oleh data yang akurat. 

Karena tidak pernah kok dari dulu di jalan mendengar pengemudi itu mendengarkan musik dengan membesarkan volume keras-keras. Dan kalau kita naik bus juga dalam waktu tertentu dia memutar musik. Bahkan kalau penumpangnya tidur, pelan-pelan supaya nggak mengganggu penumpang yang tidur. Karena memang tidak didasarkan pada data yang akurat, atau survei terkait banyaknya kecelakaan, akhirnya ya menarik kembali apa yang sudah dibuatnya sendiri. 

Ke depan barangkali kalau ingin melakukan hal-hal seperti ini seharusnya ada survei lah dan penelitian terkait dengan masalah tersebut. Sehingga tidak ditertawakan publik.

Apakah ada kesan Polri ingin populer dan cari sensasi?

Ya, menurut saya kalau buat sensasi, masa institusi Polri buat sensasi. Yang buat sensasi kan biasanya politisi, artis gitu kan, atau orang yang hidup di dunia sosialita itu. Menurut saya memang mungkin mereka ingin melihat apa yang mereka buat itu supaya tidak terjadi. 

Tapi menurut saya ya tadi itu akhirnya menjadi pembicaraan di publik, mungkin ditertawakan juga oleh sebagian orang terkait dengan itu. Jadi kalau cari sensasi ya bisa saja. Tapi saya enggak tahu bagimana usulan itu bisa keluar tanpa komunikasi, masukan dari pimpinan dan lainnya. Ya menurut saya ya nggak tahu ya apa karena sensasi atau ketidaktahuan.

Apakah dengan menarik kembali peraturan itu berarti polisi berpihak pada publik?

Enggak juga. Artinya sudah lama ya bahwa polisi baik yang di lantas itu bekerja secara humanis. Sudah lama itu. Artinya sudah lama. Tapi kan cara mereka memberikan edukasi disesuaikan dengan zamannya. Sekarang sudah zaman now, mereka menggunakan media sosial untuk mengedukasi soal tertib berlalu lintas. Menurut saya juga ini ya bisa jadi karena ketidaktahuan atau juga karena ingin mencari sensasi.

Soal merokok di jalan raya kan sebenarnya positif dan banyak yang mendukung. Kenapa polisi malah menarik kembali?

Sebenarnya itu harus dipertahankan menurut saya. Karena ini kan budaya. Cermin budaya masyarakat. Sangat tidak sedap dipandang kalau lagi mengendarai sepeda motor sambil menghisap rokok. Apalagi, di lampu merah lalu merokok. 

Jadi, mencerminkan budaya. Ketika yang harus dijaga. Mungkin ini perlu dipertahankan. Di manapun kita pergi, di negara manapun tidak ada pengendara sepeda motor itu yang seperti itu. Mereka tertib, kemudian patuh. 

Menurut saya hal-hal seperti itu yang harus dipertahankan. Walaupun nanti ada orang yang protes kok, ngaturnya sampai jauh seperti itu. Jadi kalau memegang HP, itu barangkali masih sangat rasional. Kemudian, merokok itu masih rasional untuk dilarang.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari