berita
FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.
"BUNG! Mereka ramalkan kita (Indonesia) ini bubar." Itulah pernyataan Prabowo Subianto tersebut pada pekan akhir Maret lalu sempat membuat "gaduh" lingkar politik Indonesia. Kenapa?

Ia menyebutkan bahwa negeri ini sudah tidak ada lagi di tahun 2030. Ngeri betul. Tapi, begitulah yang terangkum dalam novel Ghost Fleet karya Peter W. Singer dan August Cole.

Belum selesai di situ, ia juga nyinyir para elite politik yang dianggapnya goblok dan bermental maling. Kritik kontroversial ini, sontak menjadi sorotan publik.

Pengamat politik Indo Barometer, M Qodari menilai, Prabowo tengah meniru strategi Donald Trump di Pemilu AS 2016 untuk menaikkan elektabilitasnya menuju Pilpres 2019.

"Yang menarik, tidak selalu yang disampaikan itu benar, yang penting didengerin orang," kata M Qodari menanggapi pernyataan Prabowo belum lama ini.

Menurut dia, kalau memang itu cara yang dipakai Prabowo, justru makin kontroversial, makin bagus. Karena, ini persoalan emosi yang menimbulkan ketakutan, sehingga memilihnya.

Trump pun pernah melontarkan pernyataan semacam itu, di antaranya adalah ancaman asing terhadap AS. Makanya, Menghina imigran Meksiko, lalu melarang umat muslim datang ke AS.

Qodari sendiri enggak berani menjamin apakah strategi ini akan efektif, namun suasana politik antara Amerika ketika itu, dan Indonesia hampir-hampir mirip.

Pertama, terkait media sosial, Indonesia tidak kalah masif dengan Amerika. Dan, isu paling gampang beredar lewat wadah jejaring online tersebut.

Kedua, soal isu kesenjangan sosial. Ini bukan cuma terjadi di AS saja, melainkan juga di Indonesia. Kondisi itu adalah persoalan global, sehingga psikologis kesenjangan antarkelas, yakni kaum menengah dan proletar, "dimainkan" kandidat.

Begitu juga soal ketakutan-ketakutan publik lainnya. Semisal, di AS ini ada rasa khawatir terhadap Islam, sedangkan Indonesia anti-barat. Ini politik pesimisme.

"...hampir seluruh aset dikuasai 1 persen, enggak apa-apa...sebagian besar kekayaan kita diambil ke luar negeri, tidak tinggal di Indonesia..." Begitulah penggalan pidato Prabowo yang bawa-bawa intervensi asing terhadap negeri ini.

Pesan yang ingin disampaikan Prabowo, yakni jika ingin Indonesia lebih baik, maka mantan Danjen Kopassus itulah yang layak jadi pemimpin ke depannya.

Ingat Utang
Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS), Edy Mulyadi menilai bahwa ramalan Prabowo bisa jadi kenyataan. Toh, banyak yang demikian juga (bubar).

Secara geografis, Indonesia tetap masih di titik koordinatnya. Secara pemerintahan, Presiden dan para pejabatnya masih para WNI. Tapi, semua itu hanya lambang. 

"Kekuasaan sejati ada di tangan asing, yang memberi utang dalam jumlah super jumbo dan berbagai iming-iming kemudahan lainnya," ujar Edy.

Misalnya, Srilanka, Tibet, Zimbabwe, dan Angola adalah beberapa contoh negara yang kini tidak lagi berdaulat. Penyebabnya sama, mereka terjerat utang amat besar kepada Cina. 

Umumnya utang itu digunakan untuk membangun proyek infrastruktur. Namun, karena tidak mampu membayar, mereka akhirnya menyerahkan (kedaulatan) kepada Cina.

Utang luar negeri yang menjulang, kata dia, adalah pintu masuk tergadainya kemerdekaan sebuah bangsa. Pemerintah, terutama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, selalu menepis anggapan Indonesia darurat utang. 

Penjelasan yang senantiasa diulang-ulang, rasio utang Indonesia terhadap PDB masih di bawah 30 persen. Angka ini, jauh dari rasio yang diizinkan Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yaitu 60 persen.

"PDB sebagai nisbah dengan utang jelas salah, keliru, sesat dan menyesatkan," ujar dia.

Kemudian, tengok sedikit soal bagaimana kontrak-kontrak utang yang dibuat untuk pembangunan infrastruktur negeri. Sistem turn key project mengharuskan Indonesia mengimpor semua, termasuk tenaga kerja asing si pemberi utang.

Begitu lunglainya Indonesia, hingga tidak berdaya menerima banjir tenaga kerja asing dengan semua kategori, termasuk kelas kuli. 

Ironisnya, kuli-kuli asing itu dibayar sangat tinggi. Untuk seorang tukang asing dibayar Rp15 juta/bulan. Sedangkan tenaga tukang cuma sekitar Rp3 jutaan.

Apakah Prabowo benar-benar serius dengan pernyataannya? 

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari