Prabowo Masih Setengah Kuat
berita
FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.
Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, sepertinya belum menyerah untuk berhadapan lagi dengan Presiden Joko Widodo setelah kalah di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu. 

Apalagi, dorongan agar Prabowo nyapres kembali terus saja muncul, tentu salah satunya dari para kader partai berlambang burung Garuda tersebut.

Tak main-main, pada 12 Maret 2018 lalu, 34 DPD Gerindra berkumpul di Jakarta untuk mendorong mantan Danjen Kopassus itu maju kembali di kontes pesta demokrasi tahun depan.

Mereka mendesak Prabowo agar cita-cita Indonesia menjadi "macan Asia" bisa segera terwujud. "Ini suara masyarakat Indonesia, ya yang kami serap," kata Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, M Taufik saat deklarasi dukungan.

Seluruh pengurus DPD Gerindra berkomitmen untuk memenangkan Prabowo di daerahnya masing-masing. Tak terkecuali di Jawa Tengah yang merupakan basis massa PDI Perjuangan. 

"Pilgub jadi tolok ukur memenangkan 2019," kata Ketua DPD Gerindra Jateng, Abdul Wachid.

Tak hanya itu, aspirasi dukungan untuk Prabowo juga datang dari Provinsi Papua. Mereka bertekad akan bekerja keras memenangi Pileg dan Pilpres 2019.

"Kami akan setia berjuang bersama Partai Gerindra untuk merebut kembali Indonesia Raya di bawah kepemiminan Bapak Prabowo Subianto," kata kata Ketua DPD Papua, Yanni.

Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon, mengatakan hanya Prabowo yang mampu mengalahkan Jokowi.

Dia meyakini duel Prabowo melawan Jokowi di 2019 nanti akan berbeda hasilnya dengan Pilpres 2014 yang lalu. Pasalnya, keadaan ekonomi selama Jokowi menjadi presiden semakin buruk.

Kebijakan pemerintah sekarang tidak membawa kesejahteraan rakyat. Pedagang nelayan, buruh merasakan kesulitan, bahkan pengusaha besar juga merasakannya.

Fadli mengungkapkan, saat ini pihaknya hanya menunggu momen tepat untuk mendeklarasikan Prabowo sebagai capres 2019. Pun, logistiknya, kata dia, bukan lah masalah.

"Kita siap itu. Tidak ada masalah," tegasnya.

Selain dengan PKS, kata Fadli, Gerindra juga akan menjalin komunikasi dengan tiga partai yang sampai saat ini belum menentukan sikap, yakni PAN, Demokrat dan PKB.

Kalah Survei
Keyakinan kader-kader Gerindra di pusat dan daerah untuk memenangkan Prabowo dalam Pilpres 2019, ternyata tak sesuai dengan hasil survei dari berbagai lembaga. 

Pasalnya, hingga hari ini belum ada satu pun lembaga survei yang menempatkan Prabowo di atas Jokowi.

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei pada 5 Oktober 2017, menyebutkan bahwa Prabowo bisa saja dikalahkan lagi oleh Jokowi seperti 2014 silam.

"Kalau calonnya hanya dua dan lawannya yang terkuat sementara ini Prabowo, maka Jokowi kembali akan menjadi presiden bila pemilihan dilakukan saat survei dilakukan," kata Djayadi Hanan, Direktur Eksekutif SMRC.

Dalam pertanyaan top of mind, siapakah yang bakal dipilih jika pemilihan presiden dilakukan saat survei dilakukan, Jokowi mendapat angka 38,9 persen. Prabowo yang paling kompetitif masih berada pada 12 persen.

"Jokowi punya modal dukungan rakyat lebih besar pada periode yang sama dengan SBY dulu ketika dia petahana," tambahnya.

Tak hanya SMRC, Poltracking Indonesia juga menempatkan Prabowo di belakang Jokowi. Meski begitu, Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda, mengakui hanya Jokowi dan Prabowo lah yang jadi calon kuat pilpres.

"Elektabilitas Prabowo berkisar 20-33 persen, dan elektabilitas Jokowi berkisar 45-57 persen," kata Hanta pada 18 Februari 2018 lalu. 

Sementara dalam survei Political Communication (PolcoMM) Institute, lagi-lagi Prabowo harus mengakui keunggulan Jokowi. 

Dalam survei itu, Jokowi masih menempati posisi teratas dengan raihan angka 49,08 persen. Baru kemudian, disusul Prabowo dengan 29,67 persen.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari