Pulihkan Trauma Gempa NTB, Pemda Minta Pendidik Turun Tangan
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supartman
RILIS.ID, Mataram— Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), meminta jajaran pendidikan memberikan kegiatan pemulihan trauma kepada para pelajar saat siswa kembali ke sekolah pascagempa bumi 7,0 skala richter (SR) dan gempa susulan 6,2 SR.

"Kegiatan itupun harus dilakukan di luar ruang kelas, dan selama satu sampai dua jam saja dengan tidak boleh ada sanksi jika ada siswa yang tidak masuk tanpa keterangan," kata Wakil Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana, di Mataram, Sabtu (11/8/2018).

Dia menyampaikan hal itu guna menegaskan agar jajaran pendidikan dapat memahami kondisi psikologis anak-anak yang masih trauma terhadap bencana gempa bumi dan gempa susulan yang terjadi sepekan terakhir ini.

Sebelum adanya gempa susulan dengan kekuatan 6,2 SR pada Kamis siang, pemerintah kota memberikan kebijkan anak-anak mulai masuk pada Senin (13/8) dan belajar aktif.

Hanya saja, adanya gempa susulan yang semakin membuat anak-anak, bahkan semua orang trauma kembali ke rumah, mengharuskan Pemkot Mataram lebih bijaksana hal ini.

"Waktu masuk sekolah tetap pada 13 Agustus 2018, tetapi tidak untuk aktivitas kegiatan belajar mengajar, melainkan pemulihan trauma," kata Mohan.

Dengan demikian, jajaran pendidikan dituntut mampu melakukan berbagai kreativitas mengajak anak-anak bermain sehingga bisa menghilangkan trauma dari mereka.

Kegiatan pemulihan trauma pun, harus dilakukan di luar ruangan sebab masih ada beberapa sekolah yang kondisi bangunannya perlu perbaikan pascagempa bumi serta antisipasi gempa susulan.

Kegiatan pemulihan trauma lama dilaksankan dua jam dan jangan sampai ada sanksi kepada anak-anak yang tidak masuk sebab kemungkinan anak-anak masih bersama orang tuanya di lokasi pengungsian.

Mohan juga meminta jajaran sekolah memperbaiki sendiri kerusakan yang tidak terlalu parah. Semisal, retak kecil untuk segera ditutup sehingga saat masuk murid tidak melihat itu dan mereka tidak trauma.

Selain itu, jajaran sekolah juga diminta untuk memperbaiki berbagai tanda petunjuk ruang kelas, ruang guru, serta ruang-ruang lainnya, lukisan atau kaligrafi jika ada yang bengkok diluruskan.

"Dengan demikian, ketika anak-anak masuk tidak nampak sudah terjadi gempa bumi," ujarnya

Sumber: ANTARA

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Daerah

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari