Ramadan dan Balada Kenaikan Harga Bahan Pokok
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendy Supartman
"Apa setiap Ramadan dan Lebaran harga harus naik?" pertanyaan muncul dari salah seorang ibu rumah tangga, Triasih. Menurutnya, kenaikan harga selalu dirasakannya setiap Ramadan dan Lebaran. Entah karena faktor apa, tuturnya, seakan dua momen itu menjadi alasan pedagang menaikkan harga.

"Apa harus naik ya harganya, kadang saya berpikir begitu," ucapnya saat ditemui rilis.id, di Jakarta, baru-baru ini.

Triasih menyebut, kenaikan harga cukup mengganggu karena kadang mulai terjadi sejak dua pekan sebelum Ramadan. Keadaan akan begitu bertubi-tubi ketika jelang Lebaran atau Idul Fitri.

"Tahun ini, dua bahan pokok telur dan daging ayam misalkan, sudah naik dua minggu sebelum Ramadan," katanya.

Padahal, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri menyatakan, kenaikan harga bukan keharusan. Justru sebaliknya, harga harus lah tetap stabil kapanpun.

"Ini pertanyaan bagus, jika bertahun-tahun terulang terus berarti ada yang salah," ungkap Mansuri.

Dia mengungkapkan, kenaikan harga bahan pokok jelang Ramadan dan Lebaran diakibatkan berbagai faktor. Tapi, utamanya, karena ada ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan. Periode Ramadan dan Lebaran biasanya masyarakat cenderung berbelanja lebih banyak dari hari lain. Di sisi lain, pasokan ke pasar-pasar berjumlah sama.

"Tentu hukum pasar akan berbicara. Ketika permintaan tinggi dan barang tidak ada, harga akan naik," jelas Sekretaris Partai Garuda itu.

Oleh karena itu, dia menilai, menjaga pasokan sangat penting dilakukan. 

"Hukum pasar tidak akan pernak bohong, jika ada kekurangan pasti ada kenaikan," kata Mansuri.

"Lebaran tahun lalu terjadi kenaikan 15 persen, kalau saya lihat ritme sekarang, kenaikan harga sampai lebaran tahun ini bisa sampai 50 persen", sambungnya, dikutip dari Kontan.co.id.

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah menyebut, ada tiga hal yang menjadi sebab mengapa kenaikan harga seperti tradisi di Indonesia. Tiga hal ini berasal dari pengaturan produsen yang belum proposional. 

Pertama, produksi beberapa komoditas fluktuatif, terutama yang rentan terdampak cuaca. Seperti cabai dan padi, misalnya ada potensi overestimate produksi. Setidaknya, dua tahun belakangan. Kedua, pola budidaya produk pertanian tidak menyebar merata sepanjang tahun. Misalkan pada cabai hanya di sentra-sentra tertentu dan dipanen di waktu yang sama, yakni awal tahun. Akibatnya, saat Ramadan dan Lebaran harganya naik. Ketiga, pola distribusi pun tidak merata dan oknum pelaku pasar yang memainkan harga.

"Sayangnya kita belum punya integratif solution," ungkap Said.

Bagaimana Cara Menjaga Stabilitas Pasokan?

Setiap tahun IKAPPI selalu memberikan rekomendasi terkait penjagaan harga kepada pemerintah. Tahun ini, setidaknya tiga pesan yang disampaikan.

Pertama adalah perhitungan kebutuhan atau permintaan masyarakat dan ketersediaan barang. Dalam hal ini, data yang akurat dari berbagai kementerian sangat dibutuhkan. Setidaknya, tiga instansi yang bertanggung jawab menyajikannya, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Badan Urusan Logistik (Bulog). 

"Kebijakan yang baik berawal dari data yang akurat," ujar Mansuri.

Kedua, data-data tersebut harus diungkap ke publik dan tentu pula harus bisa di pertanggungjawabkan di tataran teknis. Selama ini yang terjadi kita mendapatkan asupan informasi, stok aman dan tercukupi. Namun dalam realisasinya data dan informasi tersebut jarang sekali terkonfirmasi secara benar dilapangan. Ketiga, memperlancar distribusi dengan berbagai cara, salah satunya memperbaiki infrastruktur transportasi.

"Infrastruktur yang buruk ini tidak hanya memperlambat proses distribusi pangan, tapi juga dapat menambah biaya pengeluaran dalam proses pendistribusian. Tentu penambahan biaya distribusi ini akan dibebankan pada harga barang. Ini juga harus diperhatikan," katanya.

Sementara itu, KRKP berpesan agar sektor pertanian yang mendapatkan perhatian sebagai pemasok bahan kebutuhan pokok. Tiga pesan tersebut yakni, membenahi pola produksi sehingga produksi bersifat merata antarwaktu. Di samping itu, sektor pertanian diberikan penguatan untuk mendistribusikan hasilnya.

"Jangan lupa koordinasi dan kerja kolektif semua lembaga soalnya kan persoalannya banyak dan lintas aktor," jelas Said.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari