Revolusi Industri 4.0, Pendidikan Berbenah
berita
ILUSTRAS: Istimewa.
NAH, kalau memang revolusi industri ini punya dampak terhadap lapangan pekerjaan, maka pekerjaan rumah (PR) pemerintah sekarang adalah menyiapkan generasi-generasi yang andal.

Pendidikan adalah kuncinya. Pemerhati pendidikan, Andreas Tambah, mengatakan, pemerintah harus terus mendorong peningkatan kualitas lulusan perguruan tinggi.

"Mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi ini merupakan sebuah keharusan," kata dia.

Disisi lain, lanjut Andreas, pemerintah harus menargetkan lulusan perguruan tinggi bisa menggarap sektor industri. Karena, ini yang sangat potensial dalam menyerap tenaga kerja.

Pengamat Pendidikan Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji, menyebutkan bahwa dalam menyambut revolusi industri di dunia pendidikan, pemerintah membutuhkan blue print-nya.

"SDM kita belum siap menghadapi, karena memang belum disiapkan," katanya.

"Revolusi industri 4.0 butuh keterampilan seperti kreatif, kritis, kolaboratif dan komunikatif," katanya.

Karena itu, dia merekomendasikan agar pemerintah untuk membuat "cetak biru" pendidikan. Di samping itu, mengevaluasi kebijakan yang selama ini sudah ada.

Kalau menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M Nasir, tugas ini juga menjadi beban bagi para dosen. Tenaga pengajar di kampus, harus punya kompetensi dasar dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

"Kalau kompetensi dasar ini tidak punya, maka akan ngambang," kata Nasir.

Dia menyebut, kompetensi dasar yang dimaksud meliputi, kompetensi profesional seperti pemahaman akademik dan pengetahuan. Serta, kompetensi pedagogis, yakni komunikasinya.

Menurut Nasir, tantangan dosen saat ini sangat beragam. Di antaranya, masuknya perguruan tinggi asing, majunya teknologi sampai karakteristik mahasiswa generasi milenial.

Sistem pembelajaran pun akan berubah, karena di era teknologi informasi, mahasiswa lebih banyak mendapatkan pengetahuan lewat internet.

Karena itu, dosen tidak bisa lagi terpaku pada kurikulum yang ada, tapi harus melakukan perubahan-perubahan dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Perubahan kurikulum harus dinamis dan cepat seiring dengan kemajuan teknologi industri, jangan sampai kemajuan teknologi mendahului kurikulum pendidikan.

"Intinya, semangat untuk meningkatkan pendidikan dan kompetensi lulusan itu sebuah keharusan dan perlu kita dukung bersama, sehingga SDM kita mampu bersaing di tingkat global," tuntasnya.

Pemerintah sendiri akan siapkan pelatihan untuk semua SDM di tingkat pusat dan daerah dalam menyambut revolusi industri 4.0.

Kementerian Perindustrian akan menjadi panitianya dan Lembaga Pertahanan Nasional ikut membuat kurikulum. Pelatihan ini akan dibuka dengan merilis pelatihan untuk pelatih pada akhir April 2018 ini.

Pada awalnya pelatihan itu akan diikuti 80 orang, dengan harapan 80 orang tersebut akan menjadi pelatih bagi lembaga yang lain.

Setelah itu akan dilakukan pelatihan untuk 1.000 peserta yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari pemerintah seperti kementerian/lembaga eselon I sampai IV, swasta dan BUMN, LSM, hingga TNI-Polri.

Tak Mau Ketinggalan

Kementerian Agama Republik Indonesia tengah mendorong program pembelajaran berbasis digital di kalangan pelajar madrasah dalam rangka menghadapi era revolusi industri 4.0.

"Tahun ini kita masuk pada era revolusi industri yang ditandai dengan pesatnya perkembangan bisnis e-commerce nasional," kata Direktur Jendral Pendidikan Islam Kemenag RI Kamarudin Amin.

Menurutnya, tantangan tersebut perlu untuk mempersiapkan tenaga kerja profesional berlatar belakang pendidikan madrasah yang peka pada perkembangan teknologi digital.

"Sistem pembelajaran digital sangat penting, kita tengah mendorong program 'Madrash Goes To Digital'. Sebab, era revolusi industri saat ini memiliki kekhasan kebutuhan pekerja yang berkemampuan digital," ujarnya.

Untuk itu, pihaknya tengah mendorong madrasah menyongsong era revolusi industri dengan sistem belajar digital.

"Saat ini sudah 93 persen secara nasional siswa madrasah yang sudah melek teknologi informasi sebab kurikulum pendidikannya pun sudah disesuaikan," ungkapnya.

Kamarudin pun tengah berupaya merealisasikan dukungan tersebut dengan menyempurnakan kurikulum pembelajaran yang sejalan dengan kebutuhan penyerapan tenaga kerja berkemampuan digital.

"Saat ini produksi ekonomi kita sudah tersambung internet. Lembaga pendidikan harus siapkan diri dalam menyesuaikan antara kebutuhan pasar dan industri," katanya.

Seluruh lembaga pendidikan madrasah dituntut memiliki literasi digital secara memadai. "Literasi digital ini yang menjadi salah satu fokus dan perhatian kita ke depan," pungkas Kamarudin.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari