Sebarkan 10 Ribu Benih ke Petani, Kementan Angkat Potensi Jeruk Keerom
berita
FOTO: Humas Balitbangtan
RILIS.ID, Jakarta— Potensi wilayah Kabupaten Keerom selain bersumber pada kekayaan sumber daya mineral, tanaman pangan, perkebunan sawit dan kehutanan, hal lain yang potensial untuk dikembangkan di Keerom adalah tanaman hortikultura. Berdasarkan catatan Balai Karantina Pertanian Jayapura, produksi jeruk keerom mengalahkan jeruk nabire dalam beberapa tahun terakhir untuk tujuan pemenuhan pasar di wilayah Jayapura dan sekitarnya dan bahkan untuk pengiriman ke daerah tambang PT. Freeport di Mimika. Berangkat dari data yang ada dengan memperhatikan topografi dan iklim wilayah Kabupaten Keerom yang merupakan lahan dengan kemiringan sekitar 52,2 persen dengan curah hujan lebih dari 1.000 milimeter per tahun daerah ini cocok untuk pengembangan komoditas jeruk bersama dengan Nabire.

Kabupaten Keerom secara geografis berbatasan langsung dan berada memanjang di daerah perbatasan Republik Indonesia dengan Negara Papua New Guinea (PNG) memiliki luas 9.365 kilometer persegi. Dengan posisinya sebagai salah satu teras depan NKRI, daerah terluar Republik Indonesia ini perlu didorong untuk menghasilkan produk berorientasi ekspor. Selain dari sisi pemenuhan kebutuhan pangan yang diwujudkan dengan program berkelanjutan Kementerian Pertanian melalui kegiatan DIP-WP (Dukungan Inovasi Pertanian di Wilayah Perbatasan) mendukung Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor -WP, Kementan mencanangkan 2018 ini sebagai tahun perbenihan.

Kementerian Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua melakukan kegiatan perbenihan jeruk di dua kabupaten tersebut sebanyak 25 ribu bibit masing-masing 10 ribu bibit untuk Kabupaten Keerom dan 15 ribu bibit untuk Kabupaten Nabire.

Kepala BPTP Papua, Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Si melakukan serah terima bibit jeruk dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Keerom, Yuda Ansaka, SP. 

Dalam sambutannya, Dr. Thamrin mengatakan, masalah pertanaman jeruk seperti juga terjadi di beberapa sentra jeruk di Indonesia adalah penyakit terutama virus CVPD. Hal ini juga dipengaruhi oleh penggunaan tanaman yang tidak jelas asal usulnya, tidak memenuhi kriteria benih yang baik untuk ditanam sehingga menyebarkan virus. Bibit jeruk yang diserahkan oleh BPTP Papua merupakan bibit unggul dengan batang bawah JC (japanese cytrus) yang tahan kekeringan dan genangan air dan batang atas Pontianak Siam adaptif di Papua dan agak tahan gangguan OPT.

Kementerian Pertanian akan menambah kegiatan perbenihan ini menjadi 2 juta bantuan benih seluruh Indonesia pada 2019.

“Semoga benih jeruk ini bermanfaat bagi masyarakat Kab. Keerom untuk meremajakan kebunnya kembali dan mengisi kebunnya agar berproduksi maksimal“ tandasnya

Kadistan mewakili pemda setempat dan masyarakat Keerom sangat berterima kasih kepada Kementerian Pertanian dalam hal ini BPTP Papua atas pemberian benih jeruk ini. Diakui beliau bahwa pertanaman jeruk yang ada di masyarakat saat ini adalah jeruk yang sudah berumur tua sehingga tidak berproduksi optimal.

Selain bantuan bibit tanaman jeruk, BPTP juga menyerahkan bantuan berupa benih pepaya sebanyak 6.000 benih siap tanam.

“Apresiasi yang tinggi untuk BPTP Papua, dengan pemberian benih unggul ini diharapkan bisa mengisi kebutuhan masyarakat akan buah-buahan komoditas jeruk dan pepaya terutama sebentar lagi kita punya hajat bersama yakni PON di Papua 2020" ungkapnya.
 
Dengan bantuan dari Kegiatan Perbenihan Kementerian Pertanian melalui BPTP Papua ini semoga bisa menambah produksi jeruk dan pepaya di Kab. Keerom sehingga bisa masuk mengisi pasar lokal di Papua dan Papua Barat bahkan bisa mengirim ke negara tetangga, Papua Nugini.

Sumber: Ressa/Balitbangtan

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari