Sebut Jokowi Pencitraan, Benarkah John McBeth Minta Maaf?
berita
Presiden Jokowi dikritik wartawan senior John McBeth. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
RILIS.ID, Jakarta— Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyatakan jurnalis senior John McBeth  sudah meminta maaf. Permintaan maaf disampaikan kolumnis kontrak Straits Times melalui sambungan telepon kepada Luhut.

"Ya, dia sudah minta maaf dan mengaku tidak ada maksud lain," kata Luhut dalam acara dialog di tvOne, Selasa (30/1/2018).

Namun, Luhut mengatakan tidak akan membawa jurnalis berusia 73 tahun tersebut ke ranah hukum.Menurutnya, pemerintah sudah biasa dikritik.

"Nggaklah, nggak akan. Kita sudah biasa dikritik untuk soal-soal itu," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, McBeth menulis artikel di media daring Asia Times dengan judul "Widodo's Smoke and Mirrors Hide Hard Truths" pada 23 Januari 2018. Kira-kira smoke and mirrors diartikan, meyakinkan publik bahwa berbagai urusan telah berjalan sukses padahal sejatinya jauh panggang dari api.

McBeth menyebut megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang ditaksir menghabiskan duit sebesar Rp70 triliun. Proyek yang banyak dimodali enam perusahaan asal China itu dipandang sebagai proyek ambisius Jokowi untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. 

Namun, hingga saat ini proyek tersebut terkendala pembebasan lahan yang seharusnya beres sebelum Jokowi meletakkan batu pertama (groundbreaking) pada 26 Januari 2016, tiga tahun lalu.

Proyek pembangkit listrik di Batang juga disoroti McBeth. Proyek yang disokong investasi senilai US$4 miliar dari Jepang itu juga mengalami kendala yang sama, pembebasan lahan.

Selain itu, perubahan skema pengembangan dari offshore menjadi onshore dalam proyek LNG Blok Masela juga menjadi sorotan. Minimnya infrastruktur untuk pengolahan offshore disebut sebagai kendala yang menyebabkan proyek ini tak berjalan mulus.

McBeth memang pewarta dan analis segala urusan di Asia ini, bukan wartawan kemarin sore. McBeth, penulis kelahiran Selandia Baru, telah menghabiskan 44 tahun karier jurnalistik di Bangkok Post dan kemudian sebagai reporter lepas untuk Bangkokwe, London Daily Telegraph dan United Press International.

Jurnalis berusia 73 tahun ini bergabung dengan Far Eastern Economic Review pada tahun 1979 dan selama 25 tahun menjabat sebagai kepala biro majalah di Bangkok, Seoul, Manila dan Jakarta.

Baca: Ini Sosok Jurnalis Gaek yang Berani Kritik Jokowi Pembohong yang Baik

Ketika Review bangkrut pada tahun 2004, dia dipekerjakan sebagai kolumnis kontrak untuk Straits Times dan kebanyakan menulis tentang urusan Indonesia. Pada usia senja itu, dia tetap menjadi salah satu koresponden asing tertua di wilayah ini.

Bukan hanya Jokowi yang dikritik McBeth, Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono juga sempat mendapat kritikan pedas lewat bukunya The Loner President Yudhoyono's Dekade of Trial and Indecision.

Editor: Yayat R Cipasang

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Nasional

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari