Seruan 'Hari Menghukum Muslim': Dari Tarik Hijab Hingga Merudal Mekkah
berita
Sejumlah Muslimah Inggris menunjukkan aksi solidaritas di Jembatan Westminster. FOTO: EPA
RILIS.ID, London— "Mereka telah membuat orang-orang yang kalian sayangi menderita. Mereka telah membuat hati kalian hancur dan sakit. Apa yang akan kalian lakukan menyikapi ini? Apakah kalian seekor 'domba' layaknya orang-orang pada umumnya? Domba yang hanya manut ketika diperintah. Mereka (domba) membiarkan negara dengan mayoritas kulit putih di Eropa dan Amerika Utara dijalankan oleh orang-orang yang menjadi ancaman bagi diri kita dan berupaya mengganti kehidupan demokrasi menjadi negara dengan hukum Syariah. Hanya kalian yang mampu mengubah situasi ini, hanya kalian yang mampu. Jangan menjadi domba!"

Pesan kebencian berisi propaganda dan ancaman tersebut diketahui dikirim ke sedikitnya enam komunitas Muslim yang berada di kota-kota Inggris. Di antara kota tersebut yakni London, Bradford, Leicester, London, Cardiff, dan Sheffield.

Di Sheffield, serangan bernada kebencian terhadap Muslim kerap terjadi. Sementara Bradford merupakan kota bersejarah yang banyak dihuni oleh keturunan Pakistan. 



Penasihat kota Bradford dari partai Liberal Demokrat Riaz Ahmed mengaku menerima surat tersebut di kantornya.

"Saya rasa pesan tersebut bermaksud untuk meneror, menebar rasa takut, dan memprovokasi terjadinya konflik antar komunitas," ucap Riaz. 

"Tapi kita telah melewati yang lebih dari itu di Bradford. Dan kita sangat bangga, sangat-sangat bangga (karena bisa melewatinya," tambahnya.

Pesan dengan judul "Hari Menghukum Muslim, 3 April 2018" itu langsung ditanggapi kepolisian Inggris dengan menggelar investigasi anti-teror.

Surat tersebut juga berisi ajakan bagi masyarakat umum untuk melakukan tindakan penyerangan ke umat Islam dengan 'dihadiahi' poin untuk setiap tingkatannya. 

-10 poin: Menyerang Muslim secara lisan
-25 poin: Menarik paksa hijab perempuan Muslimah
-50 poin: Melempar cairan asam kimia ke wajah Muslim
-100 poin: Memukuli Muslim
-250 poin: Menyiksa Muslim dengan alat setrum, mengulitinya, dan menggunakan the rack (metode penyiksaan di adab pertengahan dengan merenggangkan tubuh korban hingga putus)
-500 poin: Mencincang-cincang Muslim bagai daging dengan menggunakan senjata api, pisau, kendaraan dan lainnya
-1000 poin: Membakar atau mengebom masjid
-2500 poin: Merudal Kota Suci Mekkah

Mengutip media Inggris The Guardian, kelompok advokasi Muslim Inggris TellMAMA mengatakan, penyebaran surat tersebut telah menimbulkan kekhawatiran di tengah komunitas Muslim. Terlebih lagi bagi mereka yang menerima surat tersebut.

"Mereka kini mengkhawatirkan keselamatan diri dan anak-anak mereka yang berada di luar. Kita berupaya menenangkan mereka dan menyarankan agar menghubungi kepolisian jika menerima surat tersebut," kata direktur TellMama Iman Atta.

Kepolisian Metro dan otoritas London telah mengeluarkan imbauan serius kepada masyarakat agar bersikap waspada. Sementara Kepolisian di West Yorkshire memastikan ancaman bernada teror itu akan ditangani serius.

"Saya kembali memastikan pesan ini akan ditangani sangat serius. Saya mengimbau komunitas (Muslim) tetap waspada, dan tidak takut. Kita akan semakin kuat apabila menghadapinya bersama-sama sebagai satu kesatuan. Kita tidak akan tercerai-berai. #KitaHadapiBersama," ucap asisten kepala kepolisian West Yorkshire Angela Williams dalam pernyataannya sebagaimana dikutip New York Times.

Tidak diketahui pasti mengapa penebar ancaman tersebut menggunakan tanggal 3 April 2018 sebagai hari-H penyerangan.

Namun, sejumlah kelompok neo-Nazi yang terkenal rasis menggunakan angka 18 sebagai signifikansi dari huruf awal dan akhir dari nama Hitler (1=A untuk Adolf, 8=H untuk Hitler).

Muslim di Britania
Dalam sensus nasional yang digelar pada 2011, diketahui jumlah populasi Muslim sebesar 4,4 persen dari total penduduk (sekitar 2,7 juta). 

Angka itu meningkat drastis jika dibanding sensus pada 10 tahun sebelumnya, 2001, di mana populasi Muslim pada saat itu berjumlah 1,55 juta orang--mayoritas tersebar di Inggris dan Wales.

Namun, dengan semakin meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk Muslim, jumlah serangan berlatar belakang Islamofobia di Inggris dan Wales pun meningkat, berdasarkan data Home Office Statistics.

Tercatat dalam kurun waktu 2016-2017, terdapat 80.393 serangan ke warga dan situs Muslim. Angka itu meningkat 29 persen dari tahun sebelumnya (2015-2016) di mana serangan ke objek serupa tercatat sebanyak 62.518 laporan--tidak termasuk yang terlaporkan.

Tahun lalu, seorang Muslim yang tengah menikmati malam Ramadhan dengan shalat tarawih secara tragis meninggal dunia setelah sebuah mobil van (barisan) menabrak shaf jamaah Masjid Finsbury Park. 

Sementara Wali Kota London Sadiq Khan mengaku notifikasi Twitternya terdapat ujaran kebencian yang menyebut dirinya sebagai "teroris Muslim gay". Dikutip dari The Independent, para pelaku kebencian tersebut juga meminta dirinya hengkang dari Ingggris dan berharap dirinya mati terbunuh. 

Pada 21 Juni 2017, sepasang sepupu bernama Resham Khan Jameel Mukhtar secara tiba-tiba diserang menggunakan cairan kimia ke wajahnya. Pelaku dengan tega menyiram zat asam tersebut melalui kaca jendela mobil mereka yang tengah terbuka ketika itu.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Dunia

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari