Sirkulasi Elite
Mohammad Nasih
06 Juni 2018, 14:21 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
berita
ILUSTRASI: Hafiz
SIRKULASI atau pergantian elite politik merupakan sesuatu yang niscaya. Sebab, tidak mungkin ada orang yang akan hidup dan berjaya selamanya. Ada masa naik, dan jika pun mengalami masa kejayaan, pasti akan mengalami masa surut, sebagaimana keadaan pasang surut di laut. Sebab, tidak ada dan tidak akan pernah ada yang bisa melawan usia. Ada masa lahir, bertumbuh-berkembang, berkuasa, lalu bisa mengalami masa kembali tidak berkuasa atau langsung mati. Karena itulah, pergantian kekuasaan pasti terjadi di dalam sistem politik apa pun dan di mana pun. 

Di dalam sistem politik kerajaan, sirkulasi elite politik terjadi, tetapi secara tertutup hanya di kalangan keluarga raja saja. Yang bisa menggantikan posisi sebagai raja adalah keturunannya atau saudara-saudaranya, tergantung mekanisme internal yang dibuat dan disepakati di kalangan mereka. Namun, sesungguhnya, tetap tidak menutup terjadi sirkulasi elite dari luar garis keturunan penguasa, tetapi hampir bisa dipastikan melalui jalan paksaan dan melalui pertumpahan darah, di antaranya melalui pemberontakan sebagai sarana untuk merebut kekuasaan. 

Kapan terjadi sirkulasi itu, tergantung kekuatan penguasa dan penantang penguasa. Kekuatan militer dalam hal ini bisa dikatakan sangat menentukan. Yang memiliki kekuatan yang lebih baik dengan strategi pertempuran yang juga lebih baik tentu saja, akan menjadi pemenang dan bisa mengambil alih kekuasaan.

Di dalam sistem politik demokrasi, diciptakan mekanisme politik untuk melakukan sirkulasi elite politik melalui Pemilu, baik secara periodik dan berkala, seperti yang terjadi di Indonesia dan Amerika, maupun sewaktu-waktu, seperti yang terjadi di Malaysia dan Australia. Melalui Pemilu, sirkulasi elite politik diharapkan akan terjadi secara damai, tidak ada pertumpahan darah. 

Dalam sistem politik demokrasi, elite politik yang dipercaya oleh rakyat, baik dengan cara yang objektif maupun manipulatif, memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mempertahankan kekuasaan. 

Di beberapa negara, periode politik penguasa politik dibatasi. Indonesia misalnya, membatasi masa jabatan presiden dan kepala daerah hanya dua periode politik saja. Di Amerika, walaupun tidak tertulis, tetapi sudah ada semacam konvensi bahwa seseorang menjadi presiden hanya dua periode politik saja. Dasar pemikirannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang, mungkin dan seharusnya karena keberhasilan kepemimpinan sebelumnya, memiliki kualitas kepemimpinan lebih baik. Intinya sesungguhnya adalah agar sirkulasi elite politik pada puncak struktur kekuasaan di segala level benar-benar bisa terjadi dan muncul pemimpin-pemimpin baru yang memiliki visi dan misi lebih baik. 

Sirkulasi elite politik di negara-negara demokrasi, menjadikan Pemilu sebagai sarananya. Pemilu bisa menjadi sarana pengakuan rakyat kepada elite politik. Secara paradigmatik, bisa dikatakan jika kualitas kepemimpinan yang diberikan baik, maka rakyat bisa memilih kembali. Sebaliknya, Pemilu bisa menjadi sarana penghukuman rakyat atas elite yang abai dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinan. Namun, yang juga harus menjadi catatan adalah bahwa penguasa di mana pun dan dalam sistem politik apa pun, termasuk sistem demokrasi merupakan pihak yang memiliki potensi paling besar untuk melakukan pembangunan opini untuk keuntungan diri sendiri. 

Terutama di era digital yang semua bisa direkam dengan baik, sehingga semuanya bisa didokumentasikan dengan lebih baik, mestinya pemimpin-pemimpin baru memiliki kualitas kepemimpinan yang jauh lebih baik. Sebab, dengan mempelajari keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin sebelumnya, para pemimpin baru bisa menjalankan kepemimpinan secara lebih baik dan menghindari kegagalan yang sama. Dengan kata lain, sirkulasi elite mestinya benar-benar bisa menjanjikan lahirnya pemimpin-pemimpin baru yang bisa memberikan kualitas kepemimpinan yang jauh lebih baik, sehingga bisa mewujudkan tidak hanya kesejahteraan, tetapi juga kemakmuran seluruh rakyat.

Dalam sirkulasi elite politik, yang terlibat seringkali tidak hanya pihak-pihak di dalam negeri. Tidak menutup kemungkinan, pihak-pihak asing juga terlibat. Terutama di negara-negara yang memiliki kekayaan alam atau potensi-potensi lain yang strategis yang karena itu sangat dibutuhkan oleh pihak asing, maka pihak asing memiliki kepentingan untuk terlibat. 

Sebab, penguasa politik sangat menentukan keberlangsungan kepentingan mereka. Sirkulasi elite politik puncak, bahkan dalam beberapa kasus juga di daerah, di Indonesia, juga sangat ditentukan oleh keterlibatan pihak-pihak asing. Karena itu, rakyat harus mendapatkan pendidikan politik yang cukup, agar mereka benar-benar bisa menilai dan kemudian benar-benar menentukan pemimpin yang memiliki visi dan misi untuk menegakkan kedaulatan rakyat dan memakmurkan mereka. 

Jika mereka salah pilih, mereka akan mengalami penderitaan hidup yang bisa jadi akan terjadi tidak hanya dalam satu periode politik, tetapi bisa berimplikasi besar kepada periode-periode politik berikutnya. Yang merasakan mungkin tidak mereka, tetapi anak-anak cucu. Wallahu a’lam bi al-shawab

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari