Tega! Anak pun Diajak 'Ngebom'
berita
ILUSTRIASl: RILIS.ID/Dendi Supartman
INDONESIA masih berduka atas peristiwa teror bom di Surabaya, Jawa Timur baru-baru ini. Tak disangka orang tua tega mengajak anaknya ngebom Gereja Kristen Indonesia dan Polrestabes Surabaya.    

"Tega banget! Sungguh teganya. Gw sih enggak peduli kalau Ibunya mau ngebom tapi janganlah bawa anaknya," kata Andi (28) ketika melihat video bom yang beredar di Instagram. Kekesalan itu diluapkan lantaran dirinya juga punya anak.

Tega dan biadab. Dua kata itu mewakili emosi ketika melihat para teroris melakukan aksinya dengan melibatkan anaknya. Aksi teroris melibatkan anak memang baru kali ini terjadi di Indonesia. 

Berdasarkan pengamatan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), anak-anak mudah mendapat stimulasi negatif dan dicuci otaknya dengan pemahaman terorisme. Karena itu, anak pun mudah melakukan aksi teror, apalagi diajak oleh orang tuanya. 

"Anak adalah korban. Mereka korban dari lingkungan," ujar Ketua Umum LPAI Seto Mulyadi alias Kak Seto.

Anak merupakan korban dari otoritas orang tua yang melibatkannya dalam aksi teror. Sehingga, anak tak punya pilihan selain mengikuti orang tua untuk melakukan apapun termasuk ikut ngebom. 

Pelibatan anak juga bagian dari strategi jihad yang dilakukan oleh teroris. Justru itu memicu adrenalin para teroris untuk mengajak keluarganya melakukan aksi teror selanjutnya. 

"Para ksatria laki-laki, kami sudah menyumbangkan wanita dan anak-anak kami. Di mana kalian yang mengaku Jamaah Ansharut Daulah (JAD)?" kata mantan terpidana teroris bom Bali, Sofyan Tsauri mengutip JawaPos.com.

"Malukah kalian kepada anak-anak? Malukah kalian kepada wanita-wanita? Mereka sudah berbuat. Antum mana berbuat?" lanjut Sofyan.

Apapun alasannya, semua sepakat bahwa anak adalah amanah Allah SWT kepada orang tuannya. Mereka mempunyai kewajiban untuk dilindungi dan harus diajarkan mengenai pemahaman agama yang membawa kedamaian.

Jaga Anak Kita
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dalam situs kemdikbud.go.id melansir cara orang tua mengantisipasi dampak negatif informasi mengenai terorisme. Selain itu juga, Kemendikbud mengajak orang tua berperan aktif melawan bahaya terorisme. Berikut di antaranya:

1. Hindari paparan terhadap televisi dan media sosial terutama yang menampilkan gambar dan adegan mengerikan bagi kebanyakan anak, terutama anak di bawah usia 12 tahun. 

2. Identifikasi rasa takut anak yang mungkin berlebihan. Pahami bahwa tiap anak memiliki karakter unik. Jelaskan bahaya terorisme sangat jarang namun kewaspadaan tetap diperlukan. 

3. Cari tahu apa yang mereka pahami. Bahas secara singkat apa yang sedang terjadi meliputi fakta-fakta yang telah terverifikasi. Ajak anak untuk tidak langsung percaya pada rumor, isu, dan spekulasi. Baca juga: 

4. Beri kesempatan siswa untuk mengungkapkan perasaannya tentang tragedi/kejahatan yang terjadi. Nyatakan dengan jelas rasa duka kita terhadap para korban dan keluarganya. Bila ada rasa amarah, arahkan rasa kemarahan pada sasaran yang tepat yaitu pada pelaku kejahatan, bukan pada identitas golongan tertentu yang didasari pada prasangka. 

5. Jalani kehidupan keluarga bersama secara normal untuk memberikan rasa nyaman serta tidak tunduk pada tujuan terorisme mengganggu kehidupan kita. Kebersamaan dan komunikasi rutin penting untuk mendukung anak. 

6. Ajak anak berdiskusi dan mengapresiasi kerja para polisi, TNI, petugas kesehatan yang telah melindungi, melayani dan membantu kita di masa tragedi. Diskusikanlah lebih banyak tentang sisi kesiapan dan keberanian mereka daripada sisi kejahatan pelaku teror.

FOTO: Kemendikbud

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari