Teroris Bobol, Polri dan BIN Pantas Disalahkan?
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman
KEPOLISIAN RI dan Badan Intelijen Negara (BIN) menjadi sasaran kritik. Dua lembaga itu dinilai kecolongan dan tak mampu mendeteksi pergerakan terorisme.

Bahkan elite politik pendukung pemerintahan dan oposisi sepakat menyalahkan Polri dan BIN yang tak bisa menjaga stabilitas dan keamanan negara.

Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem yang dikenal sangat loyal terhadap pemerintah justru mengkritik keras.

"Aksi teroris ini berikan gambaran ketidakmampuan aparatur penegak hukum kita, Badan Intelijen kita untuk bisa bekerja lebih keras," katanya. 

Sementara, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon tak tinggal diam untuk mengkritik juga. Aparat keamanan dianggapnya telah gagal menjaga masyarakat.

"Jelas ini kegagalan dalam menjaga keamanan, meskipun kita kutuk dan ucapkan bela sungkawa pada para korban tapi kita harus merefleksikan apa yang terjadi bahwa aparat gagal menjaga keamanan," jelasnya.

Walaupun Polri dan BIN dianggap lemah, namun bukan berarti kedua lembaga itu tak berdaya menjaga masyarakat. Tetapi pertanyaannya adalah apakah momentum terorisme dijadikan komoditas politik?

Dari sudut politik, aksi terorisme seharusnya elite politik bersatu mengeluarkan ide dan gagasan demi terciptanya kedamaian. Elite politik malah menyalahkan aparat penegak hukum, seolah-olah negara tak berdaya melawan terorisme.

Benarkah aksi terorisme membuat elite politik tak kompak? Apa ada motif politik di balik aksi terorisme? Berikut pandangan Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC), Zaenal A Budiyono.

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

Apakah aksi terorisme di Surabaya, Sidoarjo, dan Riau dijadikan alat politik. Lalu kenapa elite politik tak bersatu?

Kalau urusan teroris tidak masuk politik praktis atau beyond politic. Karena terorisme bukan kepentingan partai x atau partai lain tapi kepentingan nyawa orang. Jadi artinya konteksnya nyawa orang, terkait teroris yang membahayakan seharusnya elite politik bersatulah. Tidak pantas itu. Di Amerika sekalipun pertarungan politik keras, ketika ada teror mereka satu suara untuk mengutuk.

Apakah dalam situasi duka ini, elite politik pantas mengkritik Polri dan BIN?

Menurut saya, elite politik mengecam, semuanya mengecam tapi ada catatan kaki. Kalau kita lihat semaunya mengecam itu, kalau parpol oposisi jelas mencatat bahwa Kapolri (Tito Karnavian) dan Kepala BIN (Budi Gunawan) dianggap tidak mampu. 

Apakah itu sehat dalam konteks Indonesia masih berduka?

Nah kalau masuk wilayah atau level itu (demokrasi) justru baik, kenapa? Kalau ada teror terjadi kembali yang harus disalahkan siapa? Aparat keamanan. Jadi harus dipisahkan orang yang tidak empati terhadap teroris dan orang yang kritis terhadap negara

Kalau terus-menerus mengkritik dan menyalahkan pihak Polri-BIN akan memicu kegaduhan politik?

Gaduh politik dalam demokrasi itu pasti gaduh. Ada teror enggak ada teror pasti gaduh. Artinya, kan dalam demokrasi sebuah keniscayaan. Kalau enggak mau gaduh enggak usah demokrasi. Demokrasi ada dua pihak yang menawarkan ide dan berbeda. Tujuannya sama kesejahteraan dan konstitusi. Kalau dalam konteks itu sah-sah saja dalam pandangan, gaduh ya boleh, enggak masalah.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari