Teroris: Maling Teriak Maling
Mohammad Nasih
16 Mei 2018, 11:33 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
berita
ILUSTRASI: Hafiz
BAHWA siapa pun yang melakukan peledakan dan menimbulkan kerusakan, sekecil apa pun, apalagi sampai menyebabkan korban nyawa orang yang tidak mengerti ujung pangkal permasalahannya, itu adalah teroris. Dan teror merupakan salah satu bentuk kejahatan besar. Sebab, tindakan itu bisa menimbulkan kecemasan dan bahkan ketakutan kepada banyak orang sehingga bisa menimbulkan implikasi yang lebih besar. 

Namun, berhenti hanya pada pelaku tersebut saja, itu merupakan cara pandang dangkal dan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Sebab, sangat bisa jadi, dan bahkan lebih banyak kasus yang disebut serangan teror di Indonesia, bisa dipastikan bahwa masih ada dalang yang menggerakkan para pelaku teror itu.

Bahkan sangat bisa jadi mereka sesungguhnya hanyalah korban yang diperalat oleh teroris yang sesungguhnya. Mereka tidak lebih hanya sebagai korban, sebagaimana para pemakai narkoba yang terjerat menjadi pemakai karena ada bandar yang ingin memanfaatkan mereka untuk mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar, dengan menguasai skala usaha yang lebih luas dalam jangka yang panjang. 

Lalu mengapa agama (baca: Islam) digunakan sebagai simbol yang dilekatkan kepada para pelaku terorisme? Sesungguhnya melihat dan menganalisis fenomena ini cukuplah dengan kerangka pikir yang sederhana. Islam adalah agama yang memiliki ajaran sangat jelas, konvergen, dan berparadigma ideologi sangat kuat. Kebenaran seluruh ajarannya yang paradigmatik, ilmiah, dan faktual, sangat sulit dibantah. 

Dalam jangka panjang, karena itu, Islam akan menjadi kekuatan yang tidak terbendung. Dan makin cepat itu terjadi, maka aktor-aktor dunia yang saat ini berkuasa, yang hanya mengagungkan materi untuk kesenangan hidup dalam kerangka hedonisme, akan mengalami kerugian besar. Karena itu, mereka melakukan upaya sekuat tenaga untuk menghalangi percepatan perkembangan pengaruh Islam yang terus meluas ini.

Mereka itulah yang merancang skenario memunculkan orang-orang dengan simbol-simbol identik Islam tetapi melakukan tindakan-tindakan teror. Padahal, sesungguhnya para pelaku itu tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang Islam. Dengan cara itu, mereka berusaha untuk merusak citra Islam. Telah banyak skenario demikian yang kemudian terbongkar, tetapi masih lebih banyak yang tidak memahami konstalasinya. Mereka itulah para teroris dunia yang sesungguhnya yang berharap bisa melekatkan image yang sama atas orang-orang yang melakukan perjuangan untuk melawan segala jenis penjajahan di atas dunia. 

Sesungguhnya ini tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh penjajah Belanda di Indonesia pada zaman penjajahan dulu, juga terjadi di negara-negara jajahan lainnya, dengan menuduh para pejuang kemerdekaan sebagai orang-orang yang melakukan sabotase dan bahkan pemberontakan. Bagi kaum pejajah, para pahlawan kemerdekaan semacam KH. Hasyim Asy’ari yang mencetuskan hubb al-wathan min al-iman adalah teroris. 

Namun, bagi bangsa Indonesia, beliau adalah seorang nasionalis religius, alias orang yang sangat mencintai bangsanya dan tidak rela bangsanya dijajah dan kekayaan buminya diangkut. Sikapnya itu didasari oleh keimanannya kepada agama Islam. Dan karena iman itu, kematian tidak pernah menggentarkan. 

Saat ini istilah untuk menggambarkan bahwa para pelaku bukanlah pelaku yang sesungguhnya makin banyak muncul. Bahkan, dalam khazanah budaya di Indonesia pun, sesungguhnya telah ada, seperti istilah Jawa “nabok nyilih tangan” (menempeleng dengan meminjam tangan orang lain), juga “maling teriak maling”. Proxy war adalah istilah yang belakangan ini lebih populer. Semua itu seharusnya menjadi kerangka berpikir untuk melihat sebuah fenomena bukan sekadar pada permukaannya, tetapi melihat apa dan siapa yang ada di baliknya. 

Jika target penipuan mereka berhasil, maka mereka akan bersorak gembira dan akan terus merancang aksi yang sama pada waktu-waktu yang akan datang. Target utamanya sangat jelas, yaitu ingin membangun kerangka berpikir bahwa Islam adalah agama yang memiliki ajaran yang sangat subur untuk menyemai bibit-bibit terorisme. Padahal Islam, baik dalam doktrin maupun sepanjang sejarah kehidupan rasulnya, juga para sahabat utamanya, adalah agama yang cinta damai. 

Namun, jangan pernah meremehkan umat Islam. Sebab, penganut Islam yang sejati adalah umat yang tidak pernah takut mati untuk melakukan jihad di jalan Allah. Termasuk untuk menemukan dan membuktikan tentang siapa teroris yang sesungguhnya, yaitu para elite ekonomi dunia yang tidak pernah puas menuruti keserakahan dengan melakukan eksploitasi sumber daya dunia di segala penjurunya. Dan mereka bisa memanfaatkan elite-elite lokal yang gagal, yang akibat keriuhan aksi teror itu, bisa digunakan untuk menutupi kegagalan kepemimpinannya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari