Tragedi Usia Empat Puluhan
Ilham Mendrofa
13 April 2018, 19:46 WIB
Pedagang jagung, saat ini aktif membenih kata di rilis.id
berita
KOMEDIAN Kanada Russell Peters pernah bilang, ketika anda masuk usia empat puluh, jangan terlalu percaya ketika anda, maaf, buang angin. Anda perlu periksa apakah itu angin atau bukan. Saya menulis artikel ini tepat di usia 42, dan alhamdulillah metabolisme saya di sektor ini masih terpercaya.

Usia kepala empat memang angka psikologis. Di mana seseorang tidak boleh lagi merasa muda, tapi tidak boleh juga merasa tua. Barangkali ini mengapa orang menetapkan life begins at forty.

Orang di usia 40, rata-rata dianggap memasuki masa yang lebih stabil secara finansial. Sekalipun persepsi tentang stabil itu bisa bermacam-macam. Bisa jadi karena sudah menemukan “urat” dalam menjalankan ekonomi, atau bisa juga karena merasa cukup dan nyaman dengan apa yang dijalani.  Orang sering menyebut dengan berdamai dengan hidup.

Baca Juga

Tapi nyatanya, perdamaian itu yang justru menimbulkan konflik baru. Usia empat puluh adalah juga usia yang rentan. Hidup menjadi baper dan sensitif. Mungkin karena tanda-tanda biologis yang mulai ambil bagian. Uban, belajar eksis walaupun malu-malu. Metabolisme mulai tak seimbang. Satu-satunya yang masih stabil adalah berat badan, sekalipun kontrol makanan sudah gila-gilaan. Juga bagi saya, yang paling menohok adalah urusan mata.

Enam bulan lalu di suatu pagi, saya merasa ada yang tak beres dengan mata saya. Saya cemas dan berniat ke dokter mata. Tapi istri saya dengan enteng bilang: “Ngapain ke dokter mata? Sudah, sana ke toko kacamata. Ini masalah umur, bukan mata.”

Jawaban enteng istri, justru menjadi pukulan berat bagi saya. Bayangkan, di saat saya merasa di puncak fit dan energi tinggi dalam bekerja, tiba-tiba ada interupsi: “umur”. Ada perasaan tidak siap sebenarnya, tapi juga tidak bisa ditolak. Dan pelan-pelan saya sadari, mungkin itu kenapa orang menandai usia empat puluh adalah situasi yang vulnerable secara emosi. Dan saya mengakui itu.

Saya tidak bilang bahwa saya mengalami puber kedua. Meskipun ada saat-saat, saya merasa melodramatis dan rapuh. Anehnya, saya tak kuasa untuk menampik. Kutukan usia empat puluh memang sialan.  

Dan ketidakstabilan psikoligis itu memang kerap menjalar kemana-mana. Tahun-tahun terakhir ini, saya kerap dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup: apa yang telah saya lakukan selama ini? Apa yang saya cari selama ini? Saya merasa bahwa yang fana itu kian dekat. Gejala-gejala biologis itu semacam mention dari Tuhan bahwa ada hukum-hukum alam yang melekat pada semua makhlukNya. “Dan kematian makin akrab” kata Subagio Sastrowardoyo.

Mungkin agak berlebihan jika ada orang usia dua puluh atau tiga puluh berbicara tentang kematian. Tapi di usia empat puluh, rasanya kurang tahu diri jika tak mengingat tentang itu. Atau setidaknya ada antiklimaks dimana wisdom sudah saatnya tumbuh bersama uban di kepala. Momen tragedi itulah yang mulai muncul di usia ini. Dan di momen-momen itu, ingatan yang paling kerap muncul oleh saya adalah tentang ibu.

Saya, seperti umumnya orang, mulai dari usia belasan hingga sekarang, adalah rentang waktu yang berjarak dengan orang tua. Mulai dari kuliah, bekerja atau merantau. Dan ketika life begin at forty itulah, rasa rindu dan bersalah kerap tumbuh. Apalagi saya merasa punya ikatan batin yang kuat dengan almarhumah mamak saya. Ada sesuatu yang tak akan mampu saya bayar sepanjang hidup.

Saya tidak tahu apakah di hari ini, di usia 42, saya sudah menjadi orang yang dewasa. Tapi setidaknya, saya sudah memiliki cukup alasan untuk berani meminta maaf kepada istri dan anak-anak saya.

Komentar (1)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari