Ulama Versus Umara?
Mohammad Nasih
31 Mei 2018, 15:26 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
berita
ILUSTRASI: Hafiz
DI antara kekeliruan konsepsional paling fatal dalam paradigma politik di Indonesia adalah dikotomi antara ulamâ’ (ilmuan) dan umarâ’ (penguasa). Karena dikotomi ini, seolah-olah ulamâ’ harus bukan umarâ’ dan sebaliknya umarâ’ harus bukan ulamâ’. 

Padahal, segala sesuatu yang dilakukan tanpa dasar ilmu, akan berakibat kepada trial and error, sehingga berpotensi besar terjerumus kepada kegagalan. Bahkan jika jatuh ke tangan orang yang salah, tentu saja tidak ada harapan untuk mendapatkan tujuan berkekuasaan, yakni untuk menolong semua warga negara agar bisa hidup dengan benar dan bisa mewujudkan kebaikan bersama.

Contoh paling ideal pengendalian kekuasaan oleh golongan ulama’ diperankan oleh Nabi Muhammad dan al-khulafâ’ al-rasyidûn (para pemimpin/pengganti yang benar/mendapatkan petunjuk). Nabi Muhammad jelas merupakan seorang yang mendapatkan ilmu langsung dari Allah Swt.. 

Dengan ilmu tersebut, Nabi Muhammad memiliki panduan yang sangat jelas untuk melakukan apa saja yang benar dan baik untuk kehidupan seluruh warga negara di Madinah dan sesungguhnya juga seluruh umat manusia. Karena itulah, Nabi Muhammad berhasil membangun negara baru yang sebelumnya tidak dihitung sama sekali, bahkan tidak dikenal dalam kontalasi politik internasional pada saat itu. 

Namun, kepemimpinannya kemudian dikenal oleh imperium-iperium besar dan di antaranya tunduk kepada kepemimpinannya setelah mendapatkan surat untuk menerima Islam, di antaranya memberikan penghormatan dengan berbagai hadiah, agar sikap mereka belum bisa menerima Islam tidak dianggap sebagai sikap permusuhan. Namun, ada juga yang dengan jelas menunjukkan permusuhan, seperti Raja Persia.
 
Sepeninggal Nabi Muhammad, kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Bakar yang bergelar al-Shiddîq. Gelar ini diberikan bukan karena sebab penting, yakni senantiasa membenarkan apa pun yang dikatakan oleh Nabi Muhammad. Dalam teori kecerdasan, Abu Bakar memiliki kecerdasan spiritual tinggi yang pada saat itu tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. 

Namun, bukan berarti ia bukanlah orang yang tidak memiliki kecerdasan lain. Bahkan bisa dikatakan bahwa Abu Bakar adalah tipe orang yang memiliki kecerdasan cukup lengkap, karena ia adalah seorang saudagar dengan status sosial yang sangat diperhitungkan. Bisa dikatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling cerdas, sehingga mampu memahami visi kerasulan Nabi Muhammad. Sekadar contoh, pada saat banyak sahabat lain, termasuk Umar belum bisa menerima isi perjanjian Hudaybiyah, Abu Bakar langsung menerimanya dan bahkan yang memberikan penjelasan kepada Umar. 

Namun demikian, bukan berarti Umar bukan seorang yang tidak cerdas. Hanya saja memang Abu Bakar memiliki visi yang lebih baik. Namun, Umar bin Khaththab juga pernah membuktikan diri sebagai orang yang memiliki visi jauh. Pada saat ayat-ayat tentang penciptaan manusia (al-Mu’minun: 12-14) turun, Umar terkagum-kagum dan kekagumannya itu ia ungkapkan melalui kalimat Fatabâraka Allaahu ahsan al-khâliqîn, Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.” 

Ternyata ayat tentang proses penciptaan manusia di dalam rahim ibu itu ditutup dengan ungkapan Umar tersebut. Karena itulah, dalam dunia tasawuf, Umar diposisikan sebagai wali hadats, yakni seorang wali yang telah mendapatkan pengetahuan sebelum sebuah kejadian terjadi. Karena itulah, tak berlebihan Abu Bakar menunjuknya sebagai penggantinya.
 
Mengenai Utsman bin Affan, juga terdapat cukup banyak kisah yang menunjukkan ketajaman hatinya. Ia adalah seorang dengan firasat yang kuat, dan dengannya mendapatkan banyak pengetahuan. Kedekatannya dengan sumber ilmu tidak bisa diragukan, karena menikah dengan dua puteri Nabi Muhammad, sehingga ia mendapatkan gelar dzu al-nurayn (pemilik dua cahaya). Karena kapasitasnya yang unggul, baik secara pengetahuan maupun ketrampilan, maka tim formatur yang dibentuk oleh Umar bin Khaththab menjatuhkan pilihan kepadanya sebagai khalifah setelah Umar.

Sedangkan mengenai Ali, tidak ada yang meragukan kapasitas keilmuannya. Bahkan Nabi Muhammad secara langsung mengatakan bahwa “Ana madînat al-‘ilm wa ‘Aliyyun bâbuhâ, Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintu gerbangnya.” Dibandingkan para sahabat yang lain yang pertama kali menerima Islam, Ali adalah yang paling muda, bahkan masih berusia anak-anak. Namun, usianya yang masih sangat belia itu tidak menghalanginya untuk menangkap kebenaran dan seringkali memberikan penjelasan kepada orang lain tentang kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. 

Ungkapan-ungkapan filosofis Ali bin Abi Thalib sampai saat ini tetap menjadi bahan-bahan kutipan yang menjadi landasan analisis yang tajam. 

Karena pemimpin-pemimpin politik umara’ yang sekaligus memiliki kapasitas sebagai ulama’ itulah, Islam menjadi agama yang tidak hanya dikenal di kalangan bangsa Arab, tetapi menyebar ke wilayah yang sangat luas. Kepemimpinan mereka diakui sebagai kepemimpinan terbaik yang mengarahkan kepada rakyat kepada kehidupan yang lebih baik, bukan hanya kesejahteraan fisik, tetapi yang juga lebih penting adalah memiliki keyakinan yang benar, yang lebih tepat disebut dengan kemakmuran. 

Pemimpin sekuler, jika pun kebetulan memiliki pikiran-pikiran yang baik untuk kehidupan duniawi, maka akan mengantarkan kehidupan yang baik di dunia ini. Namun, potensi untuk menghalalkan segala cara sangat tinggi, sehingga politiknya bisa menghalalkan segala cara. Sebaliknya, dengan pengetahuan yang komprehensif yang bersumber dari Allah Swt. dan rasul-Nya, maka kepemimpinannya akan mengantarkan kepada perwujudan negara yang baik dengan Tuhan Yang Maha Pengampun (Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr). Umara’ yang mampu mengantarkan kepada keadaan itu adalah umara’ yang sekaligus juga ulama’.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari