Hadapi Tantangan Terkini Prof. Dr. Ir Sabran, M.Sc: Digitalisasi untuk Kelola SDG
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Hadapi Tantangan Terkini Prof. Dr. Ir Sabran, M.Sc: Digitalisasi untuk Kelola SDG

...
RILIS.ID
Jakarta
23 Desember 2020 - 15:00 WIB
Bisnis | RILISID
...
Prof. Dr. Ir Muhammad Sabran. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Dr. Ir. Muhammad Sabran, M.Sc dikukuhkan menjadi profesor riset bidang pemuliaan dan genetika tanaman oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset Kementerian Pertanian (Kementan) di Bogor, Senin (21/12/2020). Pada orasi pengukuhan profesor riset yang digelar secara virtual, Sabran menyampaikan orasi berjudul “Digitalisasi untuk Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Sumberdaya Genetik Tanaman.”

Sabran memaparkan, tantangan pertanian masa kini dan masa depan antara lain adalah kebutuhan pangan yang meningkat dan ancaman perubahan iklim, berkurangnya lahan produktif, serta perubahan pola konsumsi masyarakat. Untuk itu, produktivitas tanaman sebagai bahan pangan harus ditingkatkan antara lain dengan memperbaiki karakteristiknya, seperti ketahanan menghadapi cekaman lingkungan, baik biotik maupun abiotik serta kualitas hasilnya, sesuai dengan kebutuhan dan atau dinamika pola konsumsi masyarakat.

“Diperlukan varietas tanaman yang beragam untuk menjawab secara spesifik setiap tantangan pertanian di atas. Konsekuensinya diperlukan juga sumber gen yang beragam untuk menghasilkan varietas-varietas tersebut,” kata Sabran.

Dalam orasi tersebut, Sabran memformulasikan cara-cara untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumberdaya genetik tanaman. “Digitalisasi dengan memberi pengidentifikasi pada aksesi sumberdaya genetik tanaman selain memadukan upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan, juga memudahkan penelusuran aksesi yang sudah diakses pihak luar negeri dan dapat diterapkan pada varietas tanaman, sehingga asal-usul suatu varietas dapat ditelusuri dan pergerakan varietas tersebut dapat dipantau,” jelas peneliti kelahiran Banjarmasin, tanggal 14 Agustus 1958 ini.

Keberhasilan digitalisasi untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas pengelolaan sumberdaya genetik tanaman memerlukan sinergi antar-pemangku kepentingan. Digitalisasi pengelolaan sumberdaya genetik tanaman juga berimplikasi pada keterbukaan akses terhadap sumberdaya genetik Indonesia oleh pihak luar negeri dan kemudahan akses peneliti dan organisasi di Indonesia terhadap sumberdaya genetik tanaman global.

“Karena itu diperlukan kebijakan terkait digitalisasi sistem pengelolaan sumberdaya genetik tanaman, seperti penyelesaian RUU Pengelolaan SDG, penetapan sumberdaya genetik atau spesies tanaman yang tersedia untuk diakses dan yang harus dilindungi untu kepentingan nasional oleh pemerintah sebagai dasar dalam perjanjian internasional. Serta dukungan pembiayaan yang proporsional untuk kegiatan konservasi dan perawatan bank sumberdaya genetik tanaman,” tuturnya.

Muhamad Sabran merupakan anak kedua dari pasangan Djamali (alm) dan Siti Aisyah (almh). Menikah dengan Endang Cahyawati dan dikaruniai dua orang anak yaitu Widya Ameryna dan Rakhmat Amesiandy.

Ia menamatkan sekolah dasar tahun 1971, sekolah menengah pertama tahun 1974, dan sekolah menengah atas tahun 1977. Memperoleh gelar Sarjana Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1982, gelar Magister Sains dari IPB tahun 1986, gelar Master of Science tahun 1989 dan gelar Doctor of Philosophy bidang Matematika dan Statistika Genetika dari Iowa State University tahun 1992.

Mengikuti pelatihan yang terkait dengan bidang kepakarannya yaitu: Plant Genetic Resources and SeedPolicy, Conservation and Uses, di Chennai, India tahun 2009. Pernah menduduki jabatan struktural sebagai Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah (2001-2004), Kepala BPTP Kalimantan Selatan (2004-2009) dan Kepala Bagian Kerja Sama Hukum Organisasi dan Hubungan Masyarakat pada Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2009-2013).

Jabatan fungsional Peneliti diawali sebagai Asisten Peneliti Madya golongan III/b (1993), Ajun Peneliti Muda gol III/c (1996), Ajun Peneliti Madya golongan III/d (1997), Peneliti Muda gol IV/a (1999), Peneliti Madya gol 1V/b (2004), Peneliti Madya Gol IV/c (2008) dan Peneliti Ahli Utama golongan IV/d (2018).

Menghasilkan 92 karya tulis ilmiah (KTI) baik yang ditulis sendiri maupun bersama penulis lain dalam bentuk buku, jurnal dan prosiding, sebanyak 25 KTI ditulis dalam bahasa Inggris. Ikut serta dalam pembinaan kader peneliti sebagai pembimbing thesis (S2) pada Universitas Lambung Mangkurat dan penguji disertasi (S3) pada Institut Pertanian Bogor.

Sabran aktif dalam organisasi profesi ilmiah sebagai anggota International Biometric Society (1985-1995), Ketua Bidang Teknologi, Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (2012-2016), Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Perhimpunan Agronomi Indonesia (2016-2019). Ketua Governing Body the International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (2015-2017), anggota Pehimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (2018-sekarang) dan anggota Himpunan Peneliti Indonesia (2019-sekarang).

Penghargaan yang diterimanya antara lain Satyalancana Karya Satya 20 tahun (tahun 2011) dan 30 tahun (tahun 2017) dari Presiden RI.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Hadapi Tantangan Terkini Prof. Dr. Ir Sabran, M.Sc: Digitalisasi untuk Kelola SDG

...
RILIS.ID
Jakarta
23 Desember 2020 - 15:00 WIB
Bisnis | RILISID
...
Prof. Dr. Ir Muhammad Sabran. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Dr. Ir. Muhammad Sabran, M.Sc dikukuhkan menjadi profesor riset bidang pemuliaan dan genetika tanaman oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset Kementerian Pertanian (Kementan) di Bogor, Senin (21/12/2020). Pada orasi pengukuhan profesor riset yang digelar secara virtual, Sabran menyampaikan orasi berjudul “Digitalisasi untuk Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Sumberdaya Genetik Tanaman.”

Sabran memaparkan, tantangan pertanian masa kini dan masa depan antara lain adalah kebutuhan pangan yang meningkat dan ancaman perubahan iklim, berkurangnya lahan produktif, serta perubahan pola konsumsi masyarakat. Untuk itu, produktivitas tanaman sebagai bahan pangan harus ditingkatkan antara lain dengan memperbaiki karakteristiknya, seperti ketahanan menghadapi cekaman lingkungan, baik biotik maupun abiotik serta kualitas hasilnya, sesuai dengan kebutuhan dan atau dinamika pola konsumsi masyarakat.

“Diperlukan varietas tanaman yang beragam untuk menjawab secara spesifik setiap tantangan pertanian di atas. Konsekuensinya diperlukan juga sumber gen yang beragam untuk menghasilkan varietas-varietas tersebut,” kata Sabran.

Dalam orasi tersebut, Sabran memformulasikan cara-cara untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumberdaya genetik tanaman. “Digitalisasi dengan memberi pengidentifikasi pada aksesi sumberdaya genetik tanaman selain memadukan upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan, juga memudahkan penelusuran aksesi yang sudah diakses pihak luar negeri dan dapat diterapkan pada varietas tanaman, sehingga asal-usul suatu varietas dapat ditelusuri dan pergerakan varietas tersebut dapat dipantau,” jelas peneliti kelahiran Banjarmasin, tanggal 14 Agustus 1958 ini.

Keberhasilan digitalisasi untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas pengelolaan sumberdaya genetik tanaman memerlukan sinergi antar-pemangku kepentingan. Digitalisasi pengelolaan sumberdaya genetik tanaman juga berimplikasi pada keterbukaan akses terhadap sumberdaya genetik Indonesia oleh pihak luar negeri dan kemudahan akses peneliti dan organisasi di Indonesia terhadap sumberdaya genetik tanaman global.

“Karena itu diperlukan kebijakan terkait digitalisasi sistem pengelolaan sumberdaya genetik tanaman, seperti penyelesaian RUU Pengelolaan SDG, penetapan sumberdaya genetik atau spesies tanaman yang tersedia untuk diakses dan yang harus dilindungi untu kepentingan nasional oleh pemerintah sebagai dasar dalam perjanjian internasional. Serta dukungan pembiayaan yang proporsional untuk kegiatan konservasi dan perawatan bank sumberdaya genetik tanaman,” tuturnya.

Muhamad Sabran merupakan anak kedua dari pasangan Djamali (alm) dan Siti Aisyah (almh). Menikah dengan Endang Cahyawati dan dikaruniai dua orang anak yaitu Widya Ameryna dan Rakhmat Amesiandy.

Ia menamatkan sekolah dasar tahun 1971, sekolah menengah pertama tahun 1974, dan sekolah menengah atas tahun 1977. Memperoleh gelar Sarjana Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1982, gelar Magister Sains dari IPB tahun 1986, gelar Master of Science tahun 1989 dan gelar Doctor of Philosophy bidang Matematika dan Statistika Genetika dari Iowa State University tahun 1992.

Mengikuti pelatihan yang terkait dengan bidang kepakarannya yaitu: Plant Genetic Resources and SeedPolicy, Conservation and Uses, di Chennai, India tahun 2009. Pernah menduduki jabatan struktural sebagai Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah (2001-2004), Kepala BPTP Kalimantan Selatan (2004-2009) dan Kepala Bagian Kerja Sama Hukum Organisasi dan Hubungan Masyarakat pada Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2009-2013).

Jabatan fungsional Peneliti diawali sebagai Asisten Peneliti Madya golongan III/b (1993), Ajun Peneliti Muda gol III/c (1996), Ajun Peneliti Madya golongan III/d (1997), Peneliti Muda gol IV/a (1999), Peneliti Madya gol 1V/b (2004), Peneliti Madya Gol IV/c (2008) dan Peneliti Ahli Utama golongan IV/d (2018).

Menghasilkan 92 karya tulis ilmiah (KTI) baik yang ditulis sendiri maupun bersama penulis lain dalam bentuk buku, jurnal dan prosiding, sebanyak 25 KTI ditulis dalam bahasa Inggris. Ikut serta dalam pembinaan kader peneliti sebagai pembimbing thesis (S2) pada Universitas Lambung Mangkurat dan penguji disertasi (S3) pada Institut Pertanian Bogor.

Sabran aktif dalam organisasi profesi ilmiah sebagai anggota International Biometric Society (1985-1995), Ketua Bidang Teknologi, Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (2012-2016), Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Perhimpunan Agronomi Indonesia (2016-2019). Ketua Governing Body the International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (2015-2017), anggota Pehimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (2018-sekarang) dan anggota Himpunan Peneliti Indonesia (2019-sekarang).

Penghargaan yang diterimanya antara lain Satyalancana Karya Satya 20 tahun (tahun 2011) dan 30 tahun (tahun 2017) dari Presiden RI.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya