Bukan Misionaris Kristen, Hubbul Wathan Minal Iman Didiskusikan oleh Imam Sakhawi pada 1438 M
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Bukan Misionaris Kristen, Hubbul Wathan Minal Iman Didiskusikan oleh Imam Sakhawi pada 1438 M

...
RILIS.ID
Jakarta
19 Oktober 2021 - 23:17 WIB
Nasional | RILISID
...
Seminar nasional kebangsaan Hari Santri 2021 yang diselenggarakan UKM UNU via Zoom, Selasa (19/10/2021). Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Nahdlatul Ulama (NU) akrab dengan jargon hubbul wathan minal iman. Jargon itu kembali dimunculkan K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan kemudian diabadikan dalam mars Syubbanul Wathan.

Tetapi dari mana sesungguhnya jargon tersebut?

Anggota DPD RI Dapil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Hilmy Muhammad membantah jika hubbul wathan minal iman pertama kali diungkapkan oleh seorang misionaris Kristen bernama Butrus Bustani.

"Mengatakan bahwa hubbul wathan minal iman disampaikan oleh Butrus Bustani (1819 M) adalah pemahaman sejarah yang keliru," ujar Gus Hilmy pada Seminar Nasional Kebangsaan Hari Santri 2021 yang diselenggarakan UKM Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta secara daring, Selasa (19/10/2021).

Menurutnya, hal itu sudah didiskusikan sejak 500 tahun silam. Salah satu tokoh yang mendiskusikannya adalah Imam Sakhawi.

"Sementara lebih dari 500 tahun yang lalu, Imam Sakhawi (1438 M) sudah berdialog terkait jargon tersebut. Dan jargon itu memang bukan hadis, tapi kebenaran pengertian itu bisa dibuktikan melalui pernyataan-pernyataan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam, yang menunjukkan kecintaan beliau terhadap tanah air,” terangnya.

Selain hubbul wathan minal iman, NU juga memiliki jargon “NKRI Harga Mati”. Keniscayaan dari kedua jargon itu, santri harus mengambil peran dengan sebaik-baiknya.

“Ketika mencintai negeri kita, maka kewajiban kita adalah berupaya dan memberikan partisipasi semampu kita," ujar anggota Komite I DPD RI itu.

"Santri dengan demikian tidak cukup belajar agama, tetapi bagaimana berperan dan berupaya mengisi pos-pos yang ada di negara,” sambungnya.

Hari Santri memang baru ditetapkan pada 2015, tetapi sesungguhnya perjuangan untuk itu sudah dimulai sejak belasan tahun sebelumnya.

Di antaranya oleh almarhum Mohammad Fajrul Falaakh, putra dari Prof KH Tolchah Mansoer dan kakak kandung Dra. Hj. Safira Machrusah, M.A.

Pakar Hukum Tata Negara dari UGM ini menjadi salah seorang yang mengkaji dan menggelorakan kembali peran Resolusi Jihad dalam perang melawan penjajah di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan pada 10 November.

"Belum sempat menikmati hasil perjuangannya, beliau sudah meninggal dunia," ucap Gus Hilmy.

Sebagai santri yang hari ini mendapatkan berkahnya, masih menurut Gus Hilmy, memiliki kewajiban untuk mengisi dan membuktikannya.

"Pertama, santri harus sembodo, artinya kita harus siap dan sadar diri dengan peluang yang sama. Kalau yang lain ada beasiswa, bagi santri juga ada beasiswa khusus santri. Lalu bisa tidak kita mengisinya," ungkapnya.

Demikian pula dari sisi kebersihan dan kesehatan pesantren, Gus Hilmy menegaskan harus memiliki standar yang baik.

"Justru kita harus memantaskan diri bahwa kita layak diberi Hari Santri dan UU Pesantren," tuturnya.

Kedua, santri harus berani alias memiliki mentalitas pemenang, tidak minderan. Dengan demikian, santri bisa meningkatkan kualitas diri sehingga dapat mengisi ruang-ruang sesuai minat.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Aljazair Safira Machrusah menegaskan kembali arti santri dan sejarah pendirian NU. Presentasinya ini menjadi titik untuk melihat peran NU di masa lalu dan kemudian dapat direfleksikan untuk santri saat ini.

Menurut dia, di masa lalu, NU telah berperan bagi perdamaian dunia. Salah satunya ditunjukkan dengan dukungan kepada kemerdekaan Aljazair pada 1962.

Selain itu juga NU terlibat dalam perdamaian Kaum Pattani Thailand dengan negaranya. Peran perdamaian NU lainnya terlalu banyak untuk disebutkan, seperti di Palestina.

“Mengapa demikian, karena NU dari dulu menunjukkan sikap toleransi, perdamaian, bersikap tengah, dan adil. Jadi, santri itu salah satu dari pilar perdamaian,” ujar Safira. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Bukan Misionaris Kristen, Hubbul Wathan Minal Iman Didiskusikan oleh Imam Sakhawi pada 1438 M

...
RILIS.ID
Jakarta
19 Oktober 2021 - 23:17 WIB
Nasional | RILISID
...
Seminar nasional kebangsaan Hari Santri 2021 yang diselenggarakan UKM UNU via Zoom, Selasa (19/10/2021). Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Nahdlatul Ulama (NU) akrab dengan jargon hubbul wathan minal iman. Jargon itu kembali dimunculkan K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan kemudian diabadikan dalam mars Syubbanul Wathan.

Tetapi dari mana sesungguhnya jargon tersebut?

Anggota DPD RI Dapil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Hilmy Muhammad membantah jika hubbul wathan minal iman pertama kali diungkapkan oleh seorang misionaris Kristen bernama Butrus Bustani.

"Mengatakan bahwa hubbul wathan minal iman disampaikan oleh Butrus Bustani (1819 M) adalah pemahaman sejarah yang keliru," ujar Gus Hilmy pada Seminar Nasional Kebangsaan Hari Santri 2021 yang diselenggarakan UKM Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta secara daring, Selasa (19/10/2021).

Menurutnya, hal itu sudah didiskusikan sejak 500 tahun silam. Salah satu tokoh yang mendiskusikannya adalah Imam Sakhawi.

"Sementara lebih dari 500 tahun yang lalu, Imam Sakhawi (1438 M) sudah berdialog terkait jargon tersebut. Dan jargon itu memang bukan hadis, tapi kebenaran pengertian itu bisa dibuktikan melalui pernyataan-pernyataan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam, yang menunjukkan kecintaan beliau terhadap tanah air,” terangnya.

Selain hubbul wathan minal iman, NU juga memiliki jargon “NKRI Harga Mati”. Keniscayaan dari kedua jargon itu, santri harus mengambil peran dengan sebaik-baiknya.

“Ketika mencintai negeri kita, maka kewajiban kita adalah berupaya dan memberikan partisipasi semampu kita," ujar anggota Komite I DPD RI itu.

"Santri dengan demikian tidak cukup belajar agama, tetapi bagaimana berperan dan berupaya mengisi pos-pos yang ada di negara,” sambungnya.

Hari Santri memang baru ditetapkan pada 2015, tetapi sesungguhnya perjuangan untuk itu sudah dimulai sejak belasan tahun sebelumnya.

Di antaranya oleh almarhum Mohammad Fajrul Falaakh, putra dari Prof KH Tolchah Mansoer dan kakak kandung Dra. Hj. Safira Machrusah, M.A.

Pakar Hukum Tata Negara dari UGM ini menjadi salah seorang yang mengkaji dan menggelorakan kembali peran Resolusi Jihad dalam perang melawan penjajah di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan pada 10 November.

"Belum sempat menikmati hasil perjuangannya, beliau sudah meninggal dunia," ucap Gus Hilmy.

Sebagai santri yang hari ini mendapatkan berkahnya, masih menurut Gus Hilmy, memiliki kewajiban untuk mengisi dan membuktikannya.

"Pertama, santri harus sembodo, artinya kita harus siap dan sadar diri dengan peluang yang sama. Kalau yang lain ada beasiswa, bagi santri juga ada beasiswa khusus santri. Lalu bisa tidak kita mengisinya," ungkapnya.

Demikian pula dari sisi kebersihan dan kesehatan pesantren, Gus Hilmy menegaskan harus memiliki standar yang baik.

"Justru kita harus memantaskan diri bahwa kita layak diberi Hari Santri dan UU Pesantren," tuturnya.

Kedua, santri harus berani alias memiliki mentalitas pemenang, tidak minderan. Dengan demikian, santri bisa meningkatkan kualitas diri sehingga dapat mengisi ruang-ruang sesuai minat.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Aljazair Safira Machrusah menegaskan kembali arti santri dan sejarah pendirian NU. Presentasinya ini menjadi titik untuk melihat peran NU di masa lalu dan kemudian dapat direfleksikan untuk santri saat ini.

Menurut dia, di masa lalu, NU telah berperan bagi perdamaian dunia. Salah satunya ditunjukkan dengan dukungan kepada kemerdekaan Aljazair pada 1962.

Selain itu juga NU terlibat dalam perdamaian Kaum Pattani Thailand dengan negaranya. Peran perdamaian NU lainnya terlalu banyak untuk disebutkan, seperti di Palestina.

“Mengapa demikian, karena NU dari dulu menunjukkan sikap toleransi, perdamaian, bersikap tengah, dan adil. Jadi, santri itu salah satu dari pilar perdamaian,” ujar Safira. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya