Mata Anak Umur 6 Tahun Dicungkil Ortunya, Ketua DPD Minta Pelaku Dihukum Berat
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Mata Anak Umur 6 Tahun Dicungkil Ortunya, Ketua DPD Minta Pelaku Dihukum Berat

...
RILIS.ID
Lampung Barat
6 September 2021 - 14:27 WIB
Nasional | RILISID
...
Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Foto: Dok Rilisid

RILISID, Lampung Barat — Kasus penganiayaan sadis berlatar belakang pesugihan di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, telah membuat Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti geram.

Kegeraman LaNyalla cukup beralasan. Karena korbannya adalah anak berusia 6 tahun. Akibat peristiwa tersebut, sang anak yang merupakan warga Lembang Panai, Kelurahan Gantarang, Kecamatan Tinggimoncong, harus menjalani operasi mata pada bagian kanan.

"Kasus yang terjadi ini tidak masuk akal. Demi pesugihan, orang tua tega melakukan kekerasan secara bengis dan tidak berperikemanusiaan, yakni mencungkil mata anaknya sendiri yang baru berusia enam tahun," kata LaNyalla di sela-sela kunjungan kerjanya ke Lampung Barat, Senin (6/9/2021).

LaNyalla meminta agar para pelaku yang terlibat dalam kejahatan tersebut diberikan hukuman yang berat. Tentu saja hal ini agar menjadi pembelajaran untuk menekan perlakuan keji kepada anak sendiri.

Senator asal Jawa Timur itu juga mengingatkan agar perlindungan anak dari kekerasan yang dilakukan oleh orang terdekat harus diperketat.

LaNyalla meminta kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk memberikan pendampingan dan perawatan serta pemulihan trauma psikologi korban.

Ia pun menilai peristiwa ini harus menjadi pembelajaran semua pihak untuk merumuskan perlindungan terhadap anak dari lingkungan terdekat mereka.

"Negara harus mempunyai solusi jangka panjang untuk anak-anak dengan kasus tersebut. Dikhawatirkan jika orangtuanya memang memiliki masalah kejiwaan hingga melakukan tindak penganiayaan, suatu saat bisa terulang kembali," ujarnya.

LaNyalla juga meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk turun tangan mengedukasi masyarakat yang masih percaya dengan hal-hal mistis yang tidak dibenarkan dalam agama dan seringkali memakan korban jiwa.

"Kasus ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi MUI dan Kementerian Agama untuk memberikan penerangan masalah klenik atau pesugihan kepada masyarakat," katanya.

Dalam kasus ini, pihak kepolisian telah menetapkan dua orang tersangka. Kedua tersangka kasus kekerasan tersebut merupakan kakek dan paman korban sendiri yakni, US (44) dan BAR (70).

Sementara orang tua korban berinisial HAS (43) dan TAU (47) masih menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Jiwa Dadi Makassar, Sulawesi Selatan. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Mata Anak Umur 6 Tahun Dicungkil Ortunya, Ketua DPD Minta Pelaku Dihukum Berat

...
RILIS.ID
Lampung Barat
6 September 2021 - 14:27 WIB
Nasional | RILISID
...
Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Foto: Dok Rilisid

RILISID, Lampung Barat — Kasus penganiayaan sadis berlatar belakang pesugihan di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, telah membuat Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti geram.

Kegeraman LaNyalla cukup beralasan. Karena korbannya adalah anak berusia 6 tahun. Akibat peristiwa tersebut, sang anak yang merupakan warga Lembang Panai, Kelurahan Gantarang, Kecamatan Tinggimoncong, harus menjalani operasi mata pada bagian kanan.

"Kasus yang terjadi ini tidak masuk akal. Demi pesugihan, orang tua tega melakukan kekerasan secara bengis dan tidak berperikemanusiaan, yakni mencungkil mata anaknya sendiri yang baru berusia enam tahun," kata LaNyalla di sela-sela kunjungan kerjanya ke Lampung Barat, Senin (6/9/2021).

LaNyalla meminta agar para pelaku yang terlibat dalam kejahatan tersebut diberikan hukuman yang berat. Tentu saja hal ini agar menjadi pembelajaran untuk menekan perlakuan keji kepada anak sendiri.

Senator asal Jawa Timur itu juga mengingatkan agar perlindungan anak dari kekerasan yang dilakukan oleh orang terdekat harus diperketat.

LaNyalla meminta kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk memberikan pendampingan dan perawatan serta pemulihan trauma psikologi korban.

Ia pun menilai peristiwa ini harus menjadi pembelajaran semua pihak untuk merumuskan perlindungan terhadap anak dari lingkungan terdekat mereka.

"Negara harus mempunyai solusi jangka panjang untuk anak-anak dengan kasus tersebut. Dikhawatirkan jika orangtuanya memang memiliki masalah kejiwaan hingga melakukan tindak penganiayaan, suatu saat bisa terulang kembali," ujarnya.

LaNyalla juga meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk turun tangan mengedukasi masyarakat yang masih percaya dengan hal-hal mistis yang tidak dibenarkan dalam agama dan seringkali memakan korban jiwa.

"Kasus ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi MUI dan Kementerian Agama untuk memberikan penerangan masalah klenik atau pesugihan kepada masyarakat," katanya.

Dalam kasus ini, pihak kepolisian telah menetapkan dua orang tersangka. Kedua tersangka kasus kekerasan tersebut merupakan kakek dan paman korban sendiri yakni, US (44) dan BAR (70).

Sementara orang tua korban berinisial HAS (43) dan TAU (47) masih menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Jiwa Dadi Makassar, Sulawesi Selatan. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya